30/11/2025

UNGGAH DOKUMEN LAMA

 

Beberapa hari yang lalu terbersit di hati untuk mengunggah video2 lama yang mungkin menjadi kenangan beberapa teman atau pemirsa. Dokumen itu adalah:

[1]
Video lagu 'Kagetara Tobelo' yang MP3-nya sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 03-12-2018.

Link Youtube: KAGETARA TOBELO 



[2]
Video lagu 'Neng Geulis'  yang MP3-nya juga sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 15-07-2018.

Link Youtube: NENG GEULIS


[3]
Video pengajian (taushiyah) oleh Kyai Toyi Zaini dari Beji (sering diucapkan; mBeji), Pakem. Beliau sebenarnya berasal dari Plosokuning Minomartani.

Pada acara Syawalan Trah Prawiropramujan (Alm Eyang Parawiro Pramujo; Prawirapramuja, Surengjuritan Pakualaman, dan Alm Bpk. Drs. Maryono Basri, Rjosari Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman) hari Ahad, 16 September 2012 itu beliau berpesan tentang 'Sodakoh Jariyah, Ilmu yang manfaat dan anak yang mendoakan'.

Link Youtube: Kyai TOYI YAINI



[4]
Pergelaran Wayang Ki Hadi Sugito di Kagungan Dalem Gedung Sasanahinggil Dwi Abad Kraton Yogyakarta dalam rangka Pelantikan Pengurus PEPADI DIY masabakti 2007-2010 (meski akhirnya ada perubahan AD/ART, masabakti menjadi 5 tahun),

Dalang idola masyarakat Jogja yang tampil malam Minggu, 10-02-2007 itu membawakan lakon 'Resi Dhandhangseta' yang penuh makna tetapi juga penuh humor yang segar di sepanjang pergelaran, terlebih pada pergelaran itu tampil sinden bocah, Ni Ayu Purwa Lestari yang tampil memukau.

Ki Hadi Sugito sebenarnya masih dalam kondisi kurang fit setelah 'gerah' (sakit) beberapa waktu sebelum pementasan, bahkan untuk naik panggung-pun beliau harus dipapah oleh seniman kerabat-nya, namun bukti rasa kangen dan kecintaan masyarakat tak bisa dibantah, sesaat setelah naik tangga panggung, appalus penonton tak terbendung, juga saat 'maestro dalang' itu menyapa penonton dengan mengangkat kedua tangan, melambai ke arah penonton, sorak-sorai penonton begitu antusias dan histeris.

Potongan2 file pergelaran itu lumayan banyak hingga tanceb kayon, meskipun tidak semua adegan ter-rekam. Maklum, saat itu merekamnya masih menggunakan kamera Video Hi-8 (Handycam Pita), kapasitas kaset dan baterainya terbatas, dan transfer-nya masih format PAL VCD.

Selebihnya, suara yang terekam tidak 'clear' karena hanya mengandalkan mic handycam, sementara suara gaung/gema gedung Sasanahinggil cukup mengganggu. Semoga suatu saat nanti ada teman dari RRI Jogja yang bisa mengunggah MP3 hasil output Mixer yang tentu lebih jernih.

Link Youtube: Ki HADI SUGITO Pelantikan PEPADI DIY

 

 

Pergelaran Wayang 'Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta' mulai File-01 dan seterusnya bisa di-klik pada Link berikut:

File-01: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-01
File-02: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-02

File-03: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-03
File-04: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-04
File-05: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-05
File-06: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-06
File-07: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-07
File-08: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-08
File-09: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-09

 




Lihat juga di: FACEBOOK

(https://web.facebook.com/anang.kigedepangrango)


-- <an20251130_1426> --

14/10/2025

WAYANG CLIMEN, ALTERNATIF WAYANG KERAKYATAN


Wayang Climen (minimalis) yang ini hanya ide dadakan (tiba-tiba) dari almarhum mas Triyono, Prujakan, yang mana saat itu seorang pecinta karawitan-pedalangan; mas Eko Bedjo Mulyono yang tinggal di barat lampu APILL pertigaan Candisari, Jl. Kaliurang km.11 akan mengadakan tahlil (baca doa) peringatan 1000 hari wafat Ibuk-nya.

Semula hanya akan menggelar karawitan, tapi sehari sebelumnya mas Tri datang ke rumah, saya diminta mayang dengan lakon Pandhu Swarga. Teman itu datang pada Sabtu petang dan pergelaran itu akan diselenggarakan pada Minggu malam (malam Senin), 18 Februari 2018. Akhirnya, ya sak eling-e, sak kecandhak-e saja.




Link video Youtube:



Tidak menyangka bahwa wayangan climen itu justru akan menjadi model yang marak pada masa Covid-19 dimana saat itu pergelaran wayang dibatasi durasinya, juga dibatasi penontonnya. Perangkatnya-pun lebih simple, hanya menggunakan gawangan kelir standard Mataraman (lebar 3 atau 4 meter) dan hanya menggunakan gamelan Slendro. Bedanya, pada masa Covid-19 semua seniman harus menggunakan masker atau pelindung wajah (face shield).

Ternyata nyaris pas  dua tahun selisih peristiwa itu. Wayang Climen tanggal 18 Februari 2018, dua tahun berikutnya, tanggal 21 Februari 2020 ada peristiwa duka Susur Sungai SMPN 1 Turi, kemudian disusul tanggal 02 Maret 2020 Covid-19 masuk di Indonesia.

Barangkali model wayangan ini mengingatkan kita pada era 70-an dimana wayangan di kampung saat itu style-nya seperti Wayang Climen.

Tentu wayang ini masih bisa dikembangkan di masyarakat umum mengingat harga sebuah pergelaran wayang saat ini begitu mahal, nyaris hanya instansi pemerintah, lembaga swasta tertentu, atau orang yang berkelimpahan harta saja yang bisa me-nanggap.

Marilah kita menghidupkan kembali pedalangan di kampung-kampung dengan mendaya-gunakan potensi yang ada; pengrawit, waranggana dan dalang lokal. Dengan begitu wayang akan semarak lagi.


--<an20251015_0128>--


.

20/09/2025

ANAK LAUT (VIDEO YOUTUBE)

Yang ini merupakan kelanjutan dari postingan tanggal 05 September 2018. Ada kesulitan untuk menambahkan video acting nyanyi yang luwes. Bahkan saat nyoba pakai gratisan MANGO Animasi, kok tetap saja tampak belum sreg, terkadang malah gerakannya kelihatan 'kemayu'.

Maka, biarlah saya mengandalkan gambar Meta AI untuk ilustrasi.

 

Untuk melihat cerita lengkapnya, silahkan buka postingan di Blog ini sebagaimana tanggal di atas.

Video Youtube-nya klik disini:  ANAK LAUT

 

--<an20250920_2201>-- 

02/01/2025

LANGGAM LUNTUR_REKONDISI MP3

 

Narasi file MP3 ini sudah diunggah di Blog ini pada bulan Maret 2018.

Tidak tahu, kenapa saya begitu memaksakan diri (kumudu-kudu) untuk menyelesaikan video ini pada 31 Desember 2024 pagi hari.

Ternyata pada tanggal 1 Januari 2025 ada berita lelayu, Ki Sudiyono, dalang senior Sleman seda (meninggal dunia).

Di rumah Almarhum itulah ide untuk membuat MIDI langgam LUNTUR, merekam suara (vokal) dan meng-compile menjadi MP3, saya dapatkan.

Ternyata sudah lama .. , sekitar 7 tahun yang lalu.

Dan, bersamaan matahari terbit di hari terakhir tahun 2024, selesailah video ini.


LANGGAM LUNTUR (Versi Gesang)





-- <an20250102_1947> --