Benar juga bahwa berdoa kepada Tuhan memang harus 'nepak-ke sebutan Gusti'. Artinya menghadap, memohon dengan 'bagusing ati'. Buktinya, memohon tidak hujan tapi dengan suasana hati yang 'rongeh' dan 'kemrungsung' justru diparingi hujan lebat. Dan kita memang harus sadar penuh bahwa 'hak prerogratif' untuk 'maringi' apapun itu tetap pada Tuhan.
- - -
Tanggal 19 Mei 2026 yang lalu, untuk kedua kalinya gawangan kelir dipajang sebagai latar sajian budaya (karawitan dan tari). Yang pertama dulu aman karena cuaca cerah, tapi yang kali ini hujan benar2 ditumpahkan saat tim lomba PROKLIM melakukan penilaian di lapangan.
Reda sebentar, sempat Ibu-Ibu Panembromo membawakan satu tembang, dilanjutkan beksa 'Golek Ayun-Ayun' oleh dua remaja putri dengan iringan gamelan meski karpet yang untuk duduk sudah basah kuyup.
Selepas tari, turun hujan lagi lebih deras, dan saya tenang-tenang saja meski kelir dan gamelan kehujanan, beberapa wayang kewan yang tadinya di-simping, sudah diamankan (meski di tempat yang kurang memadai).
- - -
Di dua event lomba yang pernah dilaksanakan (padukuhan Ngalangan mewakili Kapanewon Ngaglik), kami kecolongan karena ada warga yang lalai, tetap membakar sampah sementara tim sedang turun menilai di lapangan.
Tapi justru oleh peristiwa itu, terbersit pikiran: "Sebenarnya membakar sampah itu 'dosa' nggak sih?".
Banyak propaganda anti bakar sampah meski yang ini ada positipnya karena diarahkan untuk pembuatan kompos. Propaganda seperti ini lumayan realistis.
Tapi kadang ada yang lucu dan tidak fair juga. Banyak pihak sangat reaktip melarang bakar sampah namun mereka tidak pernah berterimakasih kepada orang yang menanam pohon rindang yang menghasilkan banyak Oksigen.
Saya ingat, dulu negara Malaysia dan Singapura sering protes atas kebakaran hutan di Indonesia (misal di Kalimantan) karena asapnya mengganggu, tapi sepanjang waktu mereka tidak berterimakasih juga kepada Indonesia atas berlimpahnya Oksigen oleh hutan Nusantara yang berperan pula sebagai 'Kampung Iklim Skala Besar'.
Dan oleh hal seperti inilah Program Kampung Iklim (PROKLIM) itu di-Blow Up agar kita sama-sama sadar untuk berperan saling mendukung dan bersinergi.
- - -
Kembali kepada kelir yang basah kuyup .. , akhirnya sampai di rumah langsung saya cuci bersih agar gombyok (rumbai2) kuning pada cindhe merah itu tidak terlanjur luntur menodai kelir.
Dan satu keuntungannya, dua batang pohon pisang (debog) itu diangkut pulang sekalian gawangan kelir. Ini bisa saya manfaatkan untuk membuat Video Ilustrasi dua rekaman Audio Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta tahun 2001 dan 2002.
Dan ini video hasil 'Dubbing' atau 'Lipsing-nya' (Hanya yang lakon 'Wiratha Partwa' karena yang 'Bhanuwati Rimong Bathik' sudah ada di unggahhan sebelumnya).
WIRATHA PARWA (PANDHAWA LUWAR)
--<an20260624_2143>--













