13/03/2026

LAGU WULANDARI_ILUSTRASI META-AI

Narasi sudah ada di Blog ini tertanggal 01-03-2018. Saat itu baru compile MP3-nya.

Beberapa hari yang lalu, saya nyoba Gemini AI untuk buat klip video yg sangat pendek dengan tetap memanfaatkan Meta AI Llama 4 yang ada di WA untuk file gambar-nya. File MP3 Wulandari itu saya revisi sedikit dan di-lipsing plus ilustrasi gambar, jadilah ini.

Silahkan coba klik.

WULANDARI

 



--[an13032026_18.53] --

30/11/2025

UNGGAH DOKUMEN LAMA

 

Beberapa hari yang lalu terbersit di hati untuk mengunggah video2 lama yang mungkin menjadi kenangan beberapa teman atau pemirsa. Dokumen itu adalah:

[1]
Video lagu 'Kagetara Tobelo' yang MP3-nya sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 03-12-2018.

Link Youtube: KAGETARA TOBELO 



[2]
Video lagu 'Neng Geulis'  yang MP3-nya juga sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 15-07-2018.

Link Youtube: NENG GEULIS


[3]
Video pengajian (taushiyah) oleh Kyai Toyi Zaini dari Beji (sering diucapkan; mBeji), Pakem. Beliau sebenarnya berasal dari Plosokuning Minomartani.

Pada acara Syawalan Trah Prawiropramujan (Alm Eyang Parawiro Pramujo; Prawirapramuja, Surengjuritan Pakualaman, dan Alm Bpk. Drs. Maryono Basri, Rjosari Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman) hari Ahad, 16 September 2012 itu beliau berpesan tentang 'Sodakoh Jariyah, Ilmu yang manfaat dan anak yang mendoakan'.

Link Youtube: Kyai TOYI YAINI



[4]
Pergelaran Wayang Ki Hadi Sugito di Kagungan Dalem Gedung Sasanahinggil Dwi Abad Kraton Yogyakarta dalam rangka Pelantikan Pengurus PEPADI DIY masabakti 2007-2010 (meski akhirnya ada perubahan AD/ART, masabakti menjadi 5 tahun),

Dalang idola masyarakat Jogja yang tampil malam Minggu, 10-02-2007 itu membawakan lakon 'Resi Dhandhangseta' yang penuh makna tetapi juga penuh humor yang segar di sepanjang pergelaran, terlebih pada pergelaran itu tampil sinden bocah, Ni Ayu Purwa Lestari yang tampil memukau.

Ki Hadi Sugito sebenarnya masih dalam kondisi kurang fit setelah 'gerah' (sakit) beberapa waktu sebelum pementasan, bahkan untuk naik panggung-pun beliau harus dipapah oleh seniman kerabat-nya, namun bukti rasa kangen dan kecintaan masyarakat tak bisa dibantah, sesaat setelah naik tangga panggung, appalus penonton tak terbendung, juga saat 'maestro dalang' itu menyapa penonton dengan mengangkat kedua tangan, melambai ke arah penonton, sorak-sorai penonton begitu antusias dan histeris.

Potongan2 file pergelaran itu lumayan banyak hingga tanceb kayon, meskipun tidak semua adegan ter-rekam. Maklum, saat itu merekamnya masih menggunakan kamera Video Hi-8 (Handycam Pita), kapasitas kaset dan baterainya terbatas, dan transfer-nya masih format PAL VCD.

Selebihnya, suara yang terekam tidak 'clear' karena hanya mengandalkan mic handycam, sementara suara gaung/gema gedung Sasanahinggil cukup mengganggu. Semoga suatu saat nanti ada teman dari RRI Jogja yang bisa mengunggah MP3 hasil output Mixer yang tentu lebih jernih.

Link Youtube: Ki HADI SUGITO Pelantikan PEPADI DIY

 

 

Pergelaran Wayang 'Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta' mulai File-01 dan seterusnya bisa di-klik pada Link berikut:

File-01: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-01
File-02: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-02

File-03: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-03
File-04: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-04
File-05: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-05
File-06: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-06
File-07: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-07
File-08: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-08
File-09: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-09

 




Lihat juga di: FACEBOOK

(https://web.facebook.com/anang.kigedepangrango)


-- <an20251130_1426> --

14/10/2025

WAYANG CLIMEN, ALTERNATIF WAYANG KERAKYATAN


Wayang Climen (minimalis) yang ini hanya ide dadakan (tiba-tiba) dari almarhum mas Triyono, Prujakan, yang mana saat itu seorang pecinta karawitan-pedalangan; mas Eko Bedjo Mulyono yang tinggal di barat lampu APILL pertigaan Candisari, Jl. Kaliurang km.11 akan mengadakan tahlil (baca doa) peringatan 1000 hari wafat Ibuk-nya.

Semula hanya akan menggelar karawitan, tapi sehari sebelumnya mas Tri datang ke rumah, saya diminta mayang dengan lakon Pandhu Swarga. Teman itu datang pada Sabtu petang dan pergelaran itu akan diselenggarakan pada Minggu malam (malam Senin), 18 Februari 2018. Akhirnya, ya sak eling-e, sak kecandhak-e saja.




Link video Youtube:



Tidak menyangka bahwa wayangan climen itu justru akan menjadi model yang marak pada masa Covid-19 dimana saat itu pergelaran wayang dibatasi durasinya, juga dibatasi penontonnya. Perangkatnya-pun lebih simple, hanya menggunakan gawangan kelir standard Mataraman (lebar 3 atau 4 meter) dan hanya menggunakan gamelan Slendro. Bedanya, pada masa Covid-19 semua seniman harus menggunakan masker atau pelindung wajah (face shield).

Ternyata nyaris pas  dua tahun selisih peristiwa itu. Wayang Climen tanggal 18 Februari 2018, dua tahun berikutnya, tanggal 21 Februari 2020 ada peristiwa duka Susur Sungai SMPN 1 Turi, kemudian disusul tanggal 02 Maret 2020 Covid-19 masuk di Indonesia.

Barangkali model wayangan ini mengingatkan kita pada era 70-an dimana wayangan di kampung saat itu style-nya seperti Wayang Climen.

Tentu wayang ini masih bisa dikembangkan di masyarakat umum mengingat harga sebuah pergelaran wayang saat ini begitu mahal, nyaris hanya instansi pemerintah, lembaga swasta tertentu, atau orang yang berkelimpahan harta saja yang bisa me-nanggap.

Marilah kita menghidupkan kembali pedalangan di kampung-kampung dengan mendaya-gunakan potensi yang ada; pengrawit, waranggana dan dalang lokal. Dengan begitu wayang akan semarak lagi.


--<an20251015_0128>--


.

20/09/2025

ANAK LAUT (VIDEO YOUTUBE)

Yang ini merupakan kelanjutan dari postingan tanggal 05 September 2018. Ada kesulitan untuk menambahkan video acting nyanyi yang luwes. Bahkan saat nyoba pakai gratisan MANGO Animasi, kok tetap saja tampak belum sreg, terkadang malah gerakannya kelihatan 'kemayu'.

Maka, biarlah saya mengandalkan gambar Meta AI untuk ilustrasi.

 

Untuk melihat cerita lengkapnya, silahkan buka postingan di Blog ini sebagaimana tanggal di atas.

Video Youtube-nya klik disini:  ANAK LAUT

 

--<an20250920_2201>-- 

02/01/2025

LANGGAM LUNTUR_REKONDISI MP3

 

Narasi file MP3 ini sudah diunggah di Blog ini pada bulan Maret 2018.

Tidak tahu, kenapa saya begitu memaksakan diri (kumudu-kudu) untuk menyelesaikan video ini pada 31 Desember 2024 pagi hari.

Ternyata pada tanggal 1 Januari 2025 ada berita lelayu, Ki Sudiyono, dalang senior Sleman seda (meninggal dunia).

Di rumah Almarhum itulah ide untuk membuat MIDI langgam LUNTUR, merekam suara (vokal) dan meng-compile menjadi MP3, saya dapatkan.

Ternyata sudah lama .. , sekitar 7 tahun yang lalu.

Dan, bersamaan matahari terbit di hari terakhir tahun 2024, selesailah video ini.


LANGGAM LUNTUR (Versi Gesang)





-- <an20250102_1947> --

01/12/2024

PERTAPA SAKTI GUNUNG WILIS GURU SHODANCO SUPRIYADI


Tulisan 'Misteri Gunung Wilis' yang hanya judulnya saja dan terunggah 14-12-2019 itu akhirnya 'diperbolehkan' untuk diunggah ulang dalam bentuk video di Youtube dan narasi ini.




Link Youtube: MISTERI GUNUNG WILIS


Saat judul itu diunggah, penulis benar2 merasakan ada 'isyarah' untuk menghentikan narasi disana. Penulis tersadar bahwa cerita itu selain menyangkut tokoh Pembela Tanah Air (PETA), Shodanco Supriyadi yang menggegerkan Blitar, juga berkisah tentang pribadi seorang pertapa Gunung Wilis (penulis ragu, itu manusia sewajarnya atau tokoh dari dunia ghoib) dengan klangenan seekor macan (harimau) yang tampak jinak.

Diluar dua tokoh tersebut, cerita tentang Gunung Wilis juga bersinggungan dengan presiden RI pertama, Bung Karno.

Cerita tentang pertapa sakti itu terjadi saat tokoh 'Pak Kuh' masih belajar di bangku SLTP, sedangkan cerita tentang pertemuan Pak Supriyadi dengan Bung Karno terjadi setelah kemerdekaan.

'Pak Kuh' sendiri, berdasarkan dokumen, pada era penjajahan Jepang tercatat sebagai Kengi Bundanchoo di Jogja. Ini berarti pendidikan SLTP-nya harus berhenti karena kedatangan 'tentara Cebol Kepalang' (Jepang) pada tahun 1942. Barulah setelah kemerdekaan pendidikan itu dilanjutkan di Madiun, lulus tahun 1945.

Di usia 17 tahun dengan pangkat Letnan Muda, Pak Kuh melanjutkan pengabdiannya sebagai tentara dengan tugas di Sentul/Kaliurang hingga 1947, dan pada tahun 1948-1949 pindah tugas di Boyolali, menjadi bagian dari kesatuan/kelasykaran yang dipimpin Overste Slamet Riyadi.

Tampaknya Pak Kuh ini sangat mengagumi 'Shodanco' Supriyadi dan Bung Karno, meski keduanya pernah terlibat tawar-menawar yang membuahkan kekecewaan bagi Pak Supriyadi.

Mungkin itulah yang menyebabkan beliau tidak melanjutkan pengabdian di kelasykaran/tentara tetapi justru mengikuti langkah politik 'Budhe' famili jauh-nya; SK Trimurti, dan seterusnya justru memilih menjadi petani.

Langkah yang aneh ... , tapi apakah ini sekedar ikut2-an atau meniru 'Shodanco' Supriyadi yang tak pernah menanggapi jabatan Menteri Pertahanan yang diberikan oleh Bung Karno, dan beliau memilih untuk bertapa berkepanjangan tanpa diketahui ceritanya hingga kini? 

Wallahu a'lam.


 

Foto:
Kulanuwun ke Gunung Wilis melalui Tlaga Ngebel Ponorogo, 05-06 Maret 2024

 

--- < an20241201_0949 > --- 



12/08/2024

SABDA PALON NAGIH JANJI?




Cerita tentang Sandya Kala Majapahit selalu dikaitkan dengan tokoh Sabda Palon (mestnya ada temannya Naya Genggong). Kita tidak tahu, apakah itu hanya mitos, fantasi, khayalan atau memang benar2 peristiwa nyata ada, meski tokoh itu bisa berwujud personal atau lembaga..

Kalau 'di-othak-athik' dengan pengetahuan Jawa awam, Sabda Palon bisa saja berasal dari kata SABDA PA-ALON (ucapan yang di/me-lembutkan) dan Naya Genggong dari kata NAYA GENG-GUNG ('polatan' atau air muka atau figur yang besar dan agung) yang berarti dua tokoh itu adalah figur penting (Penasehat Agung) bagi raja Majapahit.

Terlepas apapun persepsi kata2 itu, pesan fenomenal yang diucapkan kadang membuat kita khawatir karena memuat tentang  akan kembalinya agama BUDI dan ancaman akan menjadi 'pangane brekasakan' bagi yang tidak mengikutinya.

Menurut 'gagapan' penulis, kata BUDI tidak merujuk pada agama Budha tetapi lebih pada ajaran agama yang esensial, bukan agama yang dimanfaatkan untuk kepentingan apapun, termasuk kapitalis dan politis kekuasaan.

Budi lebih menuju kepada kesadaran-diri  bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang benar2 tak berdaya sehingga kita bisa bersikap rendah hati dihadapan Sang Pencipta dan makhluk lain yang diciptakan oleh-NYA.

Kedudukan kita laksana titik yang ada dibawah BA' (huruf Hijaiyah), begitu kecil dan rendah dibandingkan huruf BA' itu sendiri, apalagi dibanding untaian huruf yang membentuk kata, kalimat, cerita dan riwayat2 panjang yang me-legenda, serta kitab2 suci yang di-imani oleh umat manusia.

Karena bingung mengungkapkan keadaan saat ini, maka saya ikut2-an saja 'ngidung' dengan meminjam karya Sri Narendra Kalaseba: Kidung Wahyu Kalaseba, diiringi MIDI Music ditambah Gong gamelan Jawa.

Penulis sengaja memberi ilustrasi disana dengan kepulan dupa atau kemenyan supaya tampak magis. Saya tidak memakai Bukhur oleh2 dari Mekah sebagaimana yang penulis ceritakan di Facebook: 'Anang Ki Gede Pangrango' tanggal 31 Desember 2023.


Ini link-nya:

KIDUNG WAHYU KALASEBA


--<an20240812_1715>--