26/08/2026

MENENGOK SMK BINA HARAPAN

Tahun 1982, bulan Juli.
Saat itu usia saya masih 19 tahun, masuk semester 3 di Fak Pendidikan Teknik Elektronika.

Secara kebetulan saya mendapat tawaran atau lebih tepatnya di-daulat untuk mengajar ketrampilan Elektronika di SMA Bina Harapan, Gentan, Sinduharjo, Ngaglik (yang usianya baru 1 tahun, atau memasuki tahun ke-2) oleh Bp. Drs. Suparman, mentor saya pada kegiatan kepemudaan di Kring-17 (sebutan era itu untuk Padukuhan Ngalangan), Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, D.I. Yogyakarta.

Tawaran itu saya terima dengan senang hati karena saya memang sudah tergila-gila pada bidang Elektronika sejak kelas 2 SMA.

- - - - -

Elektronika.
Pilihan itu sangat mendukung hobi saya 'Wayang Kulit' yang mana saat itu Wayang sering disiarkan oleh stasiun radio swasta niaga (yang tergabung PRSSNI) melalui gelombang MW. Sayangnya, Bapak saya hanya punya radio 1 Band, itupun SW.

Betapa getol dan 'kepo'-nya saya mengamati radio MW yang dirakit pada hardboard berbingkai kayu yang dipajang di ruang TU Sekolah (SMA II Bopkri Yogyakarta; 1978). Saat itu saya tidak bisa berbuat apa2 karena pelajaran ketrampilan itu diberikan di kelas 2 IPA. Saya bersikeras harus masuk IPA meski persaingan cukup ketat sementara kemampuan otak saya tidak bagus2 amat.

Akhirnya kesampaian juga masuk jurusan IPA dengan motivasi 'Radio Hardboard' itu. Dan senyatanya nilai raport yang paling baik hanya dua mata pelajaran; Elektronika dan Seni Suara. Yang lain biasa2 saja atau bahkan untuk Kimia, Matematika dan Fisika hanya ada di batas 'nilai biru' saja.

Bukan karena gurunya yang tidak baik, otak sayalah yang pas2-an,  padahal saya tahu bahwa guru2 saya saat itu termasuk berkelas karena banyak informasi tentang reputasi beliau2 di luar sekolah.

Pada tahun 1996 saya mendapat informasi bahwa mantan guru Elektronika kami, Bpk. Gunawan adalah seorang Profesor Bahasa Inggris di UNY. Saya tidak terlalu kaget karena saat mengajar kami, beliau juga membuka kursus Elektronika dan Bahasa Inggris. Beliau mengajarnya sangat sistematis dan taktis.

Saya ingat, putranya yang basih bocil saat itu berlari2 sambil menghafal kata2 bahasa Inggris bentuk I, II dan III (untuk Present Tense, Past Tense dan Past Paticiple), misal: Do Did Done, Go Went Gone, dsb.
Lupa2 ingat, kalau tidak salah namanya: Tifa Perwira dan Vita Perdana.

Sementara guru Seni Suara, Ibu Sutomo, beliau adalah guru yang membawa SMA II Bopkri Yogyakarta nyaris selalu menjuarai lomba Paduan Suara SMA tingkat DIY. Beliau juga (salah satu) guru dari penyanyi 'Jatu Parmawati' yang dipopulerkan oleh Radio Geronimo. Penyanyi ini pernah kolaborasi dengan 'Gombloh' pelantun lagu legendaris 'Gebyar2' (atau 'Kebyar2' .. , saya lupa nulisnya?). Beliau juga aktif di paduan suara Gereja Jawa Samirono.

Maka tulisan ini sekaligus sebagai ucapan salam hormat saya untuk beliau2 guru saya semua.

- - - - -

SMA Bina Harapan mengkonversi diri menjadi SMK Bina Harapan pada tahun 2007 (semoga saya tidak salah data).

Saat Studi Banding (menjelang konversi SMA ke SMK), saya sempat membantu untuk komunikasi dengan Kepala Sekolah dan teman2 di TKJ karena saat itu saya 'sedang aktif2-nya' di STM Mrican, bahkan sering lembur sendirian hingga tengah malam di sekolah.

Pada tahun2 awal, ada beberapa teman TKJ Stembayo yang membantu di  SMK Bina Harapan. Saya sudah tidak memantau lagi karena asyik dengan aktifitas di jurusan Teknik Audio Video (yang sebelumnya bernama Elektronika Komunikasi) dan juga di Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DIY.

Dan ...
Beberapa hari yang lalu saya ingat rekaman Siaran Pelajar bertajuk 'Wahana Patria' di RRI Nusantara II Yogyakarta tahun 1995. Maka, ngiras mengucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-19, saya unggah video ilustrasi di Youtube untuk keluarga besar SMK Bina Harapan.

Bina Harapan adalah tempat dimana saya pertama kali mengajar, bahkan saat itu mata kuliah Teori Pendidikan dan Metodologi Penelitian (Pendidikan) belum saya peroleh. Saya hanya meniru gaya mengajar guru2 saya sejak SD hingga kuiah yang baru setahun itu. Pedoman saya saat itu hanya "Niteni, Nirok-ke, Nambahi".

Link:

Midley WAHANA PATRIA Band MANGGALA WIDYA SMA BINA HARAPAN



---<an20260826_20.18>---


 



24/06/2026

KELIR KEHUJANAN DI LOMBA PROKLIM

Benar juga bahwa berdoa kepada Tuhan memang harus 'nepak-ke sebutan Gusti'. Artinya menghadap, memohon dengan 'bagusing ati'. Buktinya, memohon tidak hujan tapi dengan suasana hati yang 'rongeh' dan 'kemrungsung' justru diparingi hujan lebat. Dan kita memang harus sadar penuh bahwa 'hak prerogratif' untuk 'maringi' apapun itu tetap pada Tuhan.

- - -

Tanggal 19 Mei 2026 yang lalu, untuk kedua kalinya gawangan kelir dipajang sebagai latar sajian budaya (karawitan dan tari). Yang pertama dulu aman karena cuaca cerah, tapi yang kali ini hujan benar2 ditumpahkan saat tim lomba PROKLIM melakukan penilaian di lapangan.

Reda sebentar, sempat Ibu-Ibu Panembromo membawakan satu tembang, dilanjutkan beksa 'Golek Ayun-Ayun' oleh dua remaja putri dengan iringan gamelan meski karpet yang untuk duduk sudah basah kuyup.

Selepas tari, turun hujan lagi lebih deras, dan saya tenang-tenang saja meski kelir dan gamelan kehujanan, beberapa wayang kewan yang tadinya di-simping, sudah diamankan (meski di tempat yang kurang memadai).

- - - 

Di dua event lomba yang pernah dilaksanakan (padukuhan Ngalangan mewakili Kapanewon Ngaglik), kami kecolongan karena ada warga yang lalai, tetap membakar sampah sementara tim sedang turun menilai di lapangan.

Tapi justru oleh peristiwa itu, terbersit pikiran: "Sebenarnya membakar sampah itu 'dosa' nggak sih?".

Banyak propaganda anti bakar sampah meski yang ini ada positipnya karena diarahkan untuk pembuatan kompos. Propaganda seperti ini lumayan realistis.

Tapi kadang ada yang lucu dan tidak fair juga. Banyak pihak sangat reaktip melarang bakar sampah namun mereka tidak pernah berterimakasih kepada orang yang menanam pohon rindang yang menghasilkan banyak Oksigen.

Saya ingat, dulu negara Malaysia dan Singapura sering protes atas kebakaran hutan di Indonesia (misal di Kalimantan) karena asapnya mengganggu, tapi sepanjang waktu mereka tidak berterimakasih juga kepada Indonesia atas berlimpahnya Oksigen oleh hutan Nusantara yang berperan pula sebagai 'Kampung Iklim Skala Besar'.

Dan oleh hal seperti inilah Program Kampung Iklim (PROKLIM) itu di-Blow Up agar kita sama-sama sadar untuk berperan saling mendukung dan bersinergi.

- - -

Kembali kepada kelir yang basah kuyup .. , akhirnya sampai di rumah langsung saya cuci bersih agar gombyok (rumbai2) kuning pada cindhe merah itu tidak terlanjur luntur menodai kelir.

Dan satu keuntungannya, dua batang pohon pisang (debog) itu diangkut pulang sekalian gawangan kelir. Ini bisa saya manfaatkan untuk membuat Video Ilustrasi dua rekaman Audio Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta tahun 2001 dan 2002.

Dan ini video hasil 'Dubbing' atau 'Lipsing-nya' (Hanya yang lakon 'Wiratha Partwa' karena yang 'Bhanuwati Rimong Bathik' sudah ada di unggahhan sebelumnya).

 

WIRATHA PARWA (PANDHAWA LUWAR) 



--<an20260624_2143>--

 

17/06/2026

VIDEO ILUSTRASI TONIL WAYANG RRI 2001


Pada akhir Februari 2026, terbersit untuk edit MP3 hasil converting kaset C90 rekaman Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta, 02 Maret 2001 (pada Video salah, tertulis 04 Januari 2001) dengan lakon 'Bhanuwati Rimong Bathik'. Kaset itu saya pesan lewat Pak Slamet HS yang saat itu bertanggung jawab pada produksi siaran tersebut.





Pada tanggal 19 Mei 2026, di padukuhan Ngalangan ada lomba PROKLIM (Program Kampung Iklim) tingkat Kabupaten dimana kelir dan beberapa 'wayang kewan' saya pajang untuk latar karawitan dan tari Golek Ayun-Ayun Jugag.

Setelah acara, dua batang debog (pohon pisang) ikut dibawa balik kerumah bersama gawangan kelir. Debog yang satu langsung di-set pada gawangan, tapi nganggur hingga Kamis, 11 Juni 2026.

Secara kebetulan, Pak Dukuh Ngalangan (Indra Gunawan) beberapa hari sebelumnya diwawancarai oleh personal 'Liputan-6' yang akan lanjut studi S2 bea-siswa BRI. Liputan itu tentang CSR BRI yang diterima oleh masyarakat. Kebetulan padukuhan (Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY) pernah mendapat bantuan seperangkat gamelan kuningan Slendro-Pelog dari CSR BRI sekitar tahun 2023.

Liputan berikutnya dilakukan pada Jum'at, 12 Juni 2026 tentang Wayang, Pedalangan dan kemanfaatan perangkat gamelan bantuan CSR itu. Kami (Bp. Danang Dewo Subroto, Ki Purwoko, dan saya) menyambut dengan senang hati dalam posisi sebagai bagian dari SDM yang mendaya-gunakan perangkat itu.

Oleh itulah, debog yang mulai alum (layu) itu saya ganti dengan batang debog yang satunya. Maka siaplah kelir dan wayang yang sekalian di-isis (di-angin2-kan), dan inilah yang meng-akselerasi untuk pembuatan Video Ilustrasi rekaman audio Tonil Wayang itu.


Anang Prawoto
20260616_2237
Malam 1 Suro 1960 (Jawa) versi Kraton Jogja
Malam 1 Muharram 1448 (Hijriyah) versi NU
 



15/04/2026

CINTAKU JAUH DI LAMPUNG

File MP3 lagu ini sudah diunggah pada 17-01-2018 di 'Mahameru Orchestra'.

Untuk ilustrasi video (klip dan gambar) dibuat pada awal April 2026 menggunakan Gemini AI dengan referensi gambar (foto) era 1999-2001, maka wajah pada video itu tampak masih sangat muda.

Aslinya, baju tradisional Jogja (surjan) yang dikenakan adalah Sutra India, dan motif bunga itu hanya kelihatan pada leher saja. Pinter (dan tidak pinter)-nya AI bisa melengkapi ornamen bunga pada seluruh bagian surjan, meski kadang tidak konsisten. Itulah kelemahan mesin.

Sementara itu, ada tambahan gambar2 icon-ik dari seluruh kabupaten/kota Lampung plus beberapa kota/kabupaten di Jawa untuk memberi nuansa hubungan emosional yang erat dengan syair lagu.

Ini Link-nya:  CINTAKU JAUH DI LAMPUNG

 


 

 ---<an20260415_2144>--

 

02/04/2026

IKRAR SYAWALAN (Revisi Ringkas)

Ikrar syawalan sudah saya unggah di BLOG ini pada Mei 2022. Yang ini adalah bentuk file WORD (DOC) yang bisa diunduh dan direvisi seperlunya.

Untuk Download, silahkan klik: TEKS IKRAR SYAWALAN 2026 

 

--<an20260402_1419>-- 

23/03/2026

LINGSIR WENGI BUKAN KIDUNG PENGUNDANG SETAN

Ada banyak narasi yang menerangkan bahwa lagu langgam 'LINGSIR WENGI' adalah kidung untuk memanggil makhluk astral, syetan, roh jahat, arwah gentayangan.

Dilihat dari liriknya, tak satupun kalimat yang bersinggungan dengan makhluk halus, terus darimana narasi itu bisa tersebar liar?

Sekedar untuk meluruskan, saya unggah kompilasi MP4 dari file MP3 yang sudah diunggah di Blog ini 17-01-2018 (tapi berdasar catatan kaki, tertanggal 16-01-2018 di TAV Stembayo) plus ilustrasi dari Gemini AI dan Llama 4 Meta AI.

Link Youtube-nya ada disini: LINGSIR WENGI



 

 --<an20260323_2241>--

 

13/03/2026

LAGU WULANDARI_ILUSTRASI META-AI

Narasi sudah ada di Blog ini tertanggal 01-03-2018. Saat itu baru compile MP3-nya.

Beberapa hari yang lalu, saya nyoba Gemini AI untuk buat klip video yg sangat pendek dengan tetap memanfaatkan Meta AI Llama 4 yang ada di WA untuk file gambar-nya. File MP3 Wulandari itu saya revisi sedikit dan di-lipsing plus ilustrasi gambar, jadilah ini.

Silahkan coba klik.

WULANDARI

 



--[an13032026_18.53] --