24/06/2026

KELIR KEHUJANAN DI LOMBA PROKLIM

Benar juga bahwa berdoa kepada Tuhan memang harus 'nepak-ke sebutan Gusti'. Artinya menghadap, memohon dengan 'bagusing ati'. Buktinya, memohon tidak hujan tapi dengan suasana hati yang 'rongeh' dan 'kemrungsung' justru diparingi hujan lebat. Dan kita memang harus sadar penuh bahwa 'hak prerogratif' untuk 'maringi' apapun itu tetap pada Tuhan.

- - -

Tanggal 19 Mei 2026 yang lalu, untuk kedua kalinya gawangan kelir dipajang sebagai latar sajian budaya (karawitan dan tari). Yang pertama dulu aman karena cuaca cerah, tapi yang kali ini hujan benar2 ditumpahkan saat tim lomba PROKLIM melakukan penilaian di lapangan.

Reda sebentar, sempat Ibu-Ibu Panembromo membawakan satu tembang, dilanjutkan beksa 'Golek Ayun-Ayun' oleh dua remaja putri dengan iringan gamelan meski karpet yang untuk duduk sudah basah kuyup.

Selepas tari, turun hujan lagi lebih deras, dan saya tenang-tenang saja meski kelir dan gamelan kehujanan, beberapa wayang kewan yang tadinya di-simping, sudah diamankan (meski di tempat yang kurang memadai).

- - - 

Di dua event lomba yang pernah dilaksanakan (padukuhan Ngalangan mewakili Kapanewon Ngaglik), kami kecolongan karena ada warga yang lalai, tetap membakar sampah sementara tim sedang turun menilai di lapangan.

Tapi justru oleh peristiwa itu, terbersit pikiran: "Sebenarnya membakar sampah itu 'dosa' nggak sih?".

Banyak propaganda anti bakar sampah meski yang ini ada positipnya karena diarahkan untuk pembuatan kompos. Propaganda seperti ini lumayan realistis.

Tapi kadang ada yang lucu dan tidak fair juga. Banyak pihak sangat reaktip melarang bakar sampah namun mereka tidak pernah berterimakasih kepada orang yang menanam pohon rindang yang menghasilkan banyak Oksigen.

Saya ingat, dulu negara Malaysia dan Singapura sering protes atas kebakaran hutan di Indonesia (misal di Kalimantan) karena asapnya mengganggu, tapi sepanjang waktu mereka tidak berterimakasih juga kepada Indonesia atas berlimpahnya Oksigen oleh hutan Nusantara yang berperan pula sebagai 'Kampung Iklim Skala Besar'.

Dan oleh hal seperti inilah Program Kampung Iklim (PROKLIM) itu di-Blow Up agar kita sama-sama sadar untuk berperan saling mendukung dan bersinergi.

- - -

Kembali kepada kelir yang basah kuyup .. , akhirnya sampai di rumah langsung saya cuci bersih agar gombyok (rumbai2) kuning pada cindhe merah itu tidak terlanjur luntur menodai kelir.

Dan satu keuntungannya, dua batang pohon pisang (debog) itu diangkut pulang sekalian gawangan kelir. Ini bisa saya manfaatkan untuk membuat Video Ilustrasi dua rekaman Audio Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta tahun 2001 dan 2002.

Dan ini video hasil 'Dubbing' atau 'Lipsing-nya' (Hanya yang lakon 'Wiratha Partwa' karena yang 'Bhanuwati Rimong Bathik' sudah ada di unggahhan sebelumnya).

 

WIRATHA PARWA (PANDHAWA LUWAR) 



--<an20260624_2143>--

 

17/06/2026

VIDEO ILUSTRASI TONIL WAYANG RRI 2001


Pada akhir Februari 2026, terbersit untuk edit MP3 hasil converting kaset C90 rekaman Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta, 02 Maret 2001 (pada Video salah, tertulis 04 Januari 2001) dengan lakon 'Bhanuwati Rimong Bathik'. Kaset itu saya pesan lewat Pak Slamet HS yang saat itu bertanggung jawab pada produksi siaran tersebut.





Pada tanggal 19 Mei 2026, di padukuhan Ngalangan ada lomba PROKLIM (Program Kampung Iklim) tingkat Kabupaten dimana kelir dan beberapa 'wayang kewan' saya pajang untuk latar karawitan dan tari Golek Ayun-Ayun Jugag.

Setelah acara, dua batang debog (pohon pisang) ikut dibawa balik kerumah bersama gawangan kelir. Debog yang satu langsung di-set pada gawangan, tapi nganggur hingga Kamis, 11 Juni 2026.

Secara kebetulan, Pak Dukuh Ngalangan (Indra Gunawan) beberapa hari sebelumnya diwawancarai oleh personal 'Liputan-6' yang akan lanjut studi S2 bea-siswa BRI. Liputan itu tentang CSR BRI yang diterima oleh masyarakat. Kebetulan padukuhan (Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY) pernah mendapat bantuan seperangkat gamelan kuningan Slendro-Pelog dari CSR BRI sekitar tahun 2023.

Liputan berikutnya dilakukan pada Jum'at, 12 Juni 2026 tentang Wayang, Pedalangan dan kemanfaatan perangkat gamelan bantuan CSR itu. Kami (Bp. Danang Dewo Subroto, Ki Purwoko, dan saya) menyambut dengan senang hati dalam posisi sebagai bagian dari SDM yang mendaya-gunakan perangkat itu.

Oleh itulah, debog yang mulai alum (layu) itu saya ganti dengan batang debog yang satunya. Maka siaplah kelir dan wayang yang sekalian di-isis (di-angin2-kan), dan inilah yang meng-akselerasi untuk pembuatan Video Ilustrasi rekaman audio Tonil Wayang itu.


Anang Prawoto
20260616_2237
Malam 1 Suro 1960 (Jawa) versi Kraton Jogja
Malam 1 Muharram 1448 (Hijriyah) versi NU