24/06/2026

KELIR KEHUJANAN DI LOMBA PROKLIM

Benar juga bahwa berdoa kepada Tuhan memang harus 'nepak-ke sebutan Gusti'. Artinya menghadap, memohon dengan 'bagusing ati'. Buktinya, memohon tidak hujan tapi dengan suasana hati yang 'rongeh' dan 'kemrungsung' justru diparingi hujan lebat. Dan kita memang harus sadar penuh bahwa 'hak prerogratif' untuk 'maringi' apapun itu tetap pada Tuhan.

- - -

Tanggal 19 Mei 2026 yang lalu, untuk kedua kalinya gawangan kelir dipajang sebagai latar sajian budaya (karawitan dan tari). Yang pertama dulu aman karena cuaca cerah, tapi yang kali ini hujan benar2 ditumpahkan saat tim lomba PROKLIM melakukan penilaian di lapangan.

Reda sebentar, sempat Ibu-Ibu Panembromo membawakan satu tembang, dilanjutkan beksa 'Golek Ayun-Ayun' oleh dua remaja putri dengan iringan gamelan meski karpet yang untuk duduk sudah basah kuyup.

Selepas tari, turun hujan lagi lebih deras, dan saya tenang-tenang saja meski kelir dan gamelan kehujanan, beberapa wayang kewan yang tadinya di-simping, sudah diamankan (meski di tempat yang kurang memadai).

- - - 

Di dua event lomba yang pernah dilaksanakan (padukuhan Ngalangan mewakili Kapanewon Ngaglik), kami kecolongan karena ada warga yang lalai, tetap membakar sampah sementara tim sedang turun menilai di lapangan.

Tapi justru oleh peristiwa itu, terbersit pikiran: "Sebenarnya membakar sampah itu 'dosa' nggak sih?".

Banyak propaganda anti bakar sampah meski yang ini ada positipnya karena diarahkan untuk pembuatan kompos. Propaganda seperti ini lumayan realistis.

Tapi kadang ada yang lucu dan tidak fair juga. Banyak pihak sangat reaktip melarang bakar sampah namun mereka tidak pernah berterimakasih kepada orang yang menanam pohon rindang yang menghasilkan banyak Oksigen.

Saya ingat, dulu negara Malaysia dan Singapura sering protes atas kebakaran hutan di Indonesia (misal di Kalimantan) karena asapnya mengganggu, tapi sepanjang waktu mereka tidak berterimakasih juga kepada Indonesia atas berlimpahnya Oksigen oleh hutan Nusantara yang berperan pula sebagai 'Kampung Iklim Skala Besar'.

Dan oleh hal seperti inilah Program Kampung Iklim (PROKLIM) itu di-Blow Up agar kita sama-sama sadar untuk berperan saling mendukung dan bersinergi.

- - -

Kembali kepada kelir yang basah kuyup .. , akhirnya sampai di rumah langsung saya cuci bersih agar gombyok (rumbai2) kuning pada cindhe merah itu tidak terlanjur luntur menodai kelir.

Dan satu keuntungannya, dua batang pohon pisang (debog) itu diangkut pulang sekalian gawangan kelir. Ini bisa saya manfaatkan untuk membuat Video Ilustrasi dua rekaman Audio Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta tahun 2001 dan 2002.

Dan ini video hasil 'Dubbing' atau 'Lipsing-nya' (Hanya yang lakon 'Wiratha Partwa' karena yang 'Bhanuwati Rimong Bathik' sudah ada di unggahhan sebelumnya).

 

WIRATHA PARWA (PANDHAWA LUWAR) 



--<an20260624_2143>--

 

17/06/2026

VIDEO ILUSTRASI TONIL WAYANG RRI 2001


Pada akhir Februari 2026, terbersit untuk edit MP3 hasil converting kaset C90 rekaman Tonil Wayang RRI Nusantara II Yogyakarta, 02 Maret 2001 (pada Video salah, tertulis 04 Januari 2001) dengan lakon 'Bhanuwati Rimong Bathik'. Kaset itu saya pesan lewat Pak Slamet HS yang saat itu bertanggung jawab pada produksi siaran tersebut.





Pada tanggal 19 Mei 2026, di padukuhan Ngalangan ada lomba PROKLIM (Program Kampung Iklim) tingkat Kabupaten dimana kelir dan beberapa 'wayang kewan' saya pajang untuk latar karawitan dan tari Golek Ayun-Ayun Jugag.

Setelah acara, dua batang debog (pohon pisang) ikut dibawa balik kerumah bersama gawangan kelir. Debog yang satu langsung di-set pada gawangan, tapi nganggur hingga Kamis, 11 Juni 2026.

Secara kebetulan, Pak Dukuh Ngalangan (Indra Gunawan) beberapa hari sebelumnya diwawancarai oleh personal 'Liputan-6' yang akan lanjut studi S2 bea-siswa BRI. Liputan itu tentang CSR BRI yang diterima oleh masyarakat. Kebetulan padukuhan (Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY) pernah mendapat bantuan seperangkat gamelan kuningan Slendro-Pelog dari CSR BRI sekitar tahun 2023.

Liputan berikutnya dilakukan pada Jum'at, 12 Juni 2026 tentang Wayang, Pedalangan dan kemanfaatan perangkat gamelan bantuan CSR itu. Kami (Bp. Danang Dewo Subroto, Ki Purwoko, dan saya) menyambut dengan senang hati dalam posisi sebagai bagian dari SDM yang mendaya-gunakan perangkat itu.

Oleh itulah, debog yang mulai alum (layu) itu saya ganti dengan batang debog yang satunya. Maka siaplah kelir dan wayang yang sekalian di-isis (di-angin2-kan), dan inilah yang meng-akselerasi untuk pembuatan Video Ilustrasi rekaman audio Tonil Wayang itu.


Anang Prawoto
20260616_2237
Malam 1 Suro 1960 (Jawa) versi Kraton Jogja
Malam 1 Muharram 1448 (Hijriyah) versi NU
 



15/04/2026

CINTAKU JAUH DI LAMPUNG

File MP3 lagu ini sudah diunggah pada 17-01-2018 di 'Mahameru Orchestra'.

Untuk ilustrasi video (klip dan gambar) dibuat pada awal April 2026 menggunakan Gemini AI dengan referensi gambar (foto) era 1999-2001, maka wajah pada video itu tampak masih sangat muda.

Aslinya, baju tradisional Jogja (surjan) yang dikenakan adalah Sutra India, dan motif bunga itu hanya kelihatan pada leher saja. Pinter (dan tidak pinter)-nya AI bisa melengkapi ornamen bunga pada seluruh bagian surjan, meski kadang tidak konsisten. Itulah kelemahan mesin.

Sementara itu, ada tambahan gambar2 icon-ik dari seluruh kabupaten/kota Lampung plus beberapa kota/kabupaten di Jawa untuk memberi nuansa hubungan emosional yang erat dengan syair lagu.

Ini Link-nya:  CINTAKU JAUH DI LAMPUNG

 


 

 ---<an20260415_2144>--

 

02/04/2026

IKRAR SYAWALAN (Revisi Ringkas)

Ikrar syawalan sudah saya unggah di BLOG ini pada Mei 2022. Yang ini adalah bentuk file WORD (DOC) yang bisa diunduh dan direvisi seperlunya.

Untuk Download, silahkan klik: TEKS IKRAR SYAWALAN 2026 

 

--<an20260402_1419>-- 

23/03/2026

LINGSIR WENGI BUKAN KIDUNG PENGUNDANG SETAN

Ada banyak narasi yang menerangkan bahwa lagu langgam 'LINGSIR WENGI' adalah kidung untuk memanggil makhluk astral, syetan, roh jahat, arwah gentayangan.

Dilihat dari liriknya, tak satupun kalimat yang bersinggungan dengan makhluk halus, terus darimana narasi itu bisa tersebar liar?

Sekedar untuk meluruskan, saya unggah kompilasi MP4 dari file MP3 yang sudah diunggah di Blog ini 17-01-2018 (tapi berdasar catatan kaki, tertanggal 16-01-2018 di TAV Stembayo) plus ilustrasi dari Gemini AI dan Llama 4 Meta AI.

Link Youtube-nya ada disini: LINGSIR WENGI



 

 --<an20260323_2241>--

 

13/03/2026

LAGU WULANDARI_ILUSTRASI META-AI

Narasi sudah ada di Blog ini tertanggal 01-03-2018. Saat itu baru compile MP3-nya.

Beberapa hari yang lalu, saya nyoba Gemini AI untuk buat klip video yg sangat pendek dengan tetap memanfaatkan Meta AI Llama 4 yang ada di WA untuk file gambar-nya. File MP3 Wulandari itu saya revisi sedikit dan di-lipsing plus ilustrasi gambar, jadilah ini.

Silahkan coba klik.

WULANDARI

 



--[an13032026_18.53] --

30/11/2025

UNGGAH DOKUMEN LAMA

 

Beberapa hari yang lalu terbersit di hati untuk mengunggah video2 lama yang mungkin menjadi kenangan beberapa teman atau pemirsa. Dokumen itu adalah:

[1]
Video lagu 'Kagetara Tobelo' yang MP3-nya sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 03-12-2018.

Link Youtube: KAGETARA TOBELO 



[2]
Video lagu 'Neng Geulis'  yang MP3-nya juga sudah diunggah pada tahun 2018, narasi-nya ada di Blog ini, tertanggal: 15-07-2018.

Link Youtube: NENG GEULIS


[3]
Video pengajian (taushiyah) oleh Kyai Toyi Zaini dari Beji (sering diucapkan; mBeji), Pakem. Beliau sebenarnya berasal dari Plosokuning Minomartani.

Pada acara Syawalan Trah Prawiropramujan (Alm Eyang Parawiro Pramujo; Prawirapramuja, Surengjuritan Pakualaman, dan Alm Bpk. Drs. Maryono Basri, Rjosari Ngalangan, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman) hari Ahad, 16 September 2012 itu beliau berpesan tentang 'Sodakoh Jariyah, Ilmu yang manfaat dan anak yang mendoakan'.

Link Youtube: Kyai TOYI YAINI



[4]
Pergelaran Wayang Ki Hadi Sugito di Kagungan Dalem Gedung Sasanahinggil Dwi Abad Kraton Yogyakarta dalam rangka Pelantikan Pengurus PEPADI DIY masabakti 2007-2010 (meski akhirnya ada perubahan AD/ART, masabakti menjadi 5 tahun),

Dalang idola masyarakat Jogja yang tampil malam Minggu, 10-02-2007 itu membawakan lakon 'Resi Dhandhangseta' yang penuh makna tetapi juga penuh humor yang segar di sepanjang pergelaran, terlebih pada pergelaran itu tampil sinden bocah, Ni Ayu Purwa Lestari yang tampil memukau.

Ki Hadi Sugito sebenarnya masih dalam kondisi kurang fit setelah 'gerah' (sakit) beberapa waktu sebelum pementasan, bahkan untuk naik panggung-pun beliau harus dipapah oleh seniman kerabat-nya, namun bukti rasa kangen dan kecintaan masyarakat tak bisa dibantah, sesaat setelah naik tangga panggung, appalus penonton tak terbendung, juga saat 'maestro dalang' itu menyapa penonton dengan mengangkat kedua tangan, melambai ke arah penonton, sorak-sorai penonton begitu antusias dan histeris.

Potongan2 file pergelaran itu lumayan banyak hingga tanceb kayon, meskipun tidak semua adegan ter-rekam. Maklum, saat itu merekamnya masih menggunakan kamera Video Hi-8 (Handycam Pita), kapasitas kaset dan baterainya terbatas, dan transfer-nya masih format PAL VCD.

Selebihnya, suara yang terekam tidak 'clear' karena hanya mengandalkan mic handycam, sementara suara gaung/gema gedung Sasanahinggil cukup mengganggu. Semoga suatu saat nanti ada teman dari RRI Jogja yang bisa mengunggah MP3 hasil output Mixer yang tentu lebih jernih.

Link Youtube: Ki HADI SUGITO Pelantikan PEPADI DIY

 

 

Pergelaran Wayang 'Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta' mulai File-01 dan seterusnya bisa di-klik pada Link berikut:

File-01: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-01
File-02: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-02

File-03: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-03
File-04: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-04
File-05: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-05
File-06: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-06
File-07: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-07
File-08: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-08
File-09: Ki HADI SUGITO Resi Dhandhangseta-09

 




Lihat juga di: FACEBOOK

(https://web.facebook.com/anang.kigedepangrango)


-- <an20251130_1426> --

14/10/2025

WAYANG CLIMEN, ALTERNATIF WAYANG KERAKYATAN


Wayang Climen (minimalis) yang ini hanya ide dadakan (tiba-tiba) dari almarhum mas Triyono, Prujakan, yang mana saat itu seorang pecinta karawitan-pedalangan; mas Eko Bedjo Mulyono yang tinggal di barat lampu APILL pertigaan Candisari, Jl. Kaliurang km.11 akan mengadakan tahlil (baca doa) peringatan 1000 hari wafat Ibuk-nya.

Semula hanya akan menggelar karawitan, tapi sehari sebelumnya mas Tri datang ke rumah, saya diminta mayang dengan lakon Pandhu Swarga. Teman itu datang pada Sabtu petang dan pergelaran itu akan diselenggarakan pada Minggu malam (malam Senin), 18 Februari 2018. Akhirnya, ya sak eling-e, sak kecandhak-e saja.




Link video Youtube:



Tidak menyangka bahwa wayangan climen itu justru akan menjadi model yang marak pada masa Covid-19 dimana saat itu pergelaran wayang dibatasi durasinya, juga dibatasi penontonnya. Perangkatnya-pun lebih simple, hanya menggunakan gawangan kelir standard Mataraman (lebar 3 atau 4 meter) dan hanya menggunakan gamelan Slendro. Bedanya, pada masa Covid-19 semua seniman harus menggunakan masker atau pelindung wajah (face shield).

Ternyata nyaris pas  dua tahun selisih peristiwa itu. Wayang Climen tanggal 18 Februari 2018, dua tahun berikutnya, tanggal 21 Februari 2020 ada peristiwa duka Susur Sungai SMPN 1 Turi, kemudian disusul tanggal 02 Maret 2020 Covid-19 masuk di Indonesia.

Barangkali model wayangan ini mengingatkan kita pada era 70-an dimana wayangan di kampung saat itu style-nya seperti Wayang Climen.

Tentu wayang ini masih bisa dikembangkan di masyarakat umum mengingat harga sebuah pergelaran wayang saat ini begitu mahal, nyaris hanya instansi pemerintah, lembaga swasta tertentu, atau orang yang berkelimpahan harta saja yang bisa me-nanggap.

Marilah kita menghidupkan kembali pedalangan di kampung-kampung dengan mendaya-gunakan potensi yang ada; pengrawit, waranggana dan dalang lokal. Dengan begitu wayang akan semarak lagi.


--<an20251015_0128>--


.

20/09/2025

ANAK LAUT (VIDEO YOUTUBE)

Yang ini merupakan kelanjutan dari postingan tanggal 05 September 2018. Ada kesulitan untuk menambahkan video acting nyanyi yang luwes. Bahkan saat nyoba pakai gratisan MANGO Animasi, kok tetap saja tampak belum sreg, terkadang malah gerakannya kelihatan 'kemayu'.

Maka, biarlah saya mengandalkan gambar Meta AI untuk ilustrasi.

 

Untuk melihat cerita lengkapnya, silahkan buka postingan di Blog ini sebagaimana tanggal di atas.

Video Youtube-nya klik disini:  ANAK LAUT

 

--<an20250920_2201>-- 

02/01/2025

LANGGAM LUNTUR_REKONDISI MP3

 

Narasi file MP3 ini sudah diunggah di Blog ini pada bulan Maret 2018.

Tidak tahu, kenapa saya begitu memaksakan diri (kumudu-kudu) untuk menyelesaikan video ini pada 31 Desember 2024 pagi hari.

Ternyata pada tanggal 1 Januari 2025 ada berita lelayu, Ki Sudiyono, dalang senior Sleman seda (meninggal dunia).

Di rumah Almarhum itulah ide untuk membuat MIDI langgam LUNTUR, merekam suara (vokal) dan meng-compile menjadi MP3, saya dapatkan.

Ternyata sudah lama .. , sekitar 7 tahun yang lalu.

Dan, bersamaan matahari terbit di hari terakhir tahun 2024, selesailah video ini.


LANGGAM LUNTUR (Versi Gesang)





-- <an20250102_1947> --

01/12/2024

PERTAPA SAKTI GUNUNG WILIS GURU SHODANCO SUPRIYADI


Tulisan 'Misteri Gunung Wilis' yang hanya judulnya saja dan terunggah 14-12-2019 itu akhirnya 'diperbolehkan' untuk diunggah ulang dalam bentuk video di Youtube dan narasi ini.




Link Youtube: MISTERI GUNUNG WILIS


Saat judul itu diunggah, penulis benar2 merasakan ada 'isyarah' untuk menghentikan narasi disana. Penulis tersadar bahwa cerita itu selain menyangkut tokoh Pembela Tanah Air (PETA), Shodanco Supriyadi yang menggegerkan Blitar, juga berkisah tentang pribadi seorang pertapa Gunung Wilis (penulis ragu, itu manusia sewajarnya atau tokoh dari dunia ghoib) dengan klangenan seekor macan (harimau) yang tampak jinak.

Diluar dua tokoh tersebut, cerita tentang Gunung Wilis juga bersinggungan dengan presiden RI pertama, Bung Karno.

Cerita tentang pertapa sakti itu terjadi saat tokoh 'Pak Kuh' masih belajar di bangku SLTP, sedangkan cerita tentang pertemuan Pak Supriyadi dengan Bung Karno terjadi setelah kemerdekaan.

'Pak Kuh' sendiri, berdasarkan dokumen, pada era penjajahan Jepang tercatat sebagai Kengi Bundanchoo di Jogja. Ini berarti pendidikan SLTP-nya harus berhenti karena kedatangan 'tentara Cebol Kepalang' (Jepang) pada tahun 1942. Barulah setelah kemerdekaan pendidikan itu dilanjutkan di Madiun, lulus tahun 1945.

Di usia 17 tahun dengan pangkat Letnan Muda, Pak Kuh melanjutkan pengabdiannya sebagai tentara dengan tugas di Sentul/Kaliurang hingga 1947, dan pada tahun 1948-1949 pindah tugas di Boyolali, menjadi bagian dari kesatuan/kelasykaran yang dipimpin Overste Slamet Riyadi.

Tampaknya Pak Kuh ini sangat mengagumi 'Shodanco' Supriyadi dan Bung Karno, meski keduanya pernah terlibat tawar-menawar yang membuahkan kekecewaan bagi Pak Supriyadi.

Mungkin itulah yang menyebabkan beliau tidak melanjutkan pengabdian di kelasykaran/tentara tetapi justru mengikuti langkah politik 'Budhe' famili jauh-nya; SK Trimurti, dan seterusnya justru memilih menjadi petani.

Langkah yang aneh ... , tapi apakah ini sekedar ikut2-an atau meniru 'Shodanco' Supriyadi yang tak pernah menanggapi jabatan Menteri Pertahanan yang diberikan oleh Bung Karno, dan beliau memilih untuk bertapa berkepanjangan tanpa diketahui ceritanya hingga kini? 

Wallahu a'lam.


 

Foto:
Kulanuwun ke Gunung Wilis melalui Tlaga Ngebel Ponorogo, 05-06 Maret 2024

 

--- < an20241201_0949 > --- 



12/08/2024

SABDA PALON NAGIH JANJI?




Cerita tentang Sandya Kala Majapahit selalu dikaitkan dengan tokoh Sabda Palon (mestnya ada temannya Naya Genggong). Kita tidak tahu, apakah itu hanya mitos, fantasi, khayalan atau memang benar2 peristiwa nyata ada, meski tokoh itu bisa berwujud personal atau lembaga..

Kalau 'di-othak-athik' dengan pengetahuan Jawa awam, Sabda Palon bisa saja berasal dari kata SABDA PA-ALON (ucapan yang di/me-lembutkan) dan Naya Genggong dari kata NAYA GENG-GUNG ('polatan' atau air muka atau figur yang besar dan agung) yang berarti dua tokoh itu adalah figur penting (Penasehat Agung) bagi raja Majapahit.

Terlepas apapun persepsi kata2 itu, pesan fenomenal yang diucapkan kadang membuat kita khawatir karena memuat tentang  akan kembalinya agama BUDI dan ancaman akan menjadi 'pangane brekasakan' bagi yang tidak mengikutinya.

Menurut 'gagapan' penulis, kata BUDI tidak merujuk pada agama Budha tetapi lebih pada ajaran agama yang esensial, bukan agama yang dimanfaatkan untuk kepentingan apapun, termasuk kapitalis dan politis kekuasaan.

Budi lebih menuju kepada kesadaran-diri  bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang benar2 tak berdaya sehingga kita bisa bersikap rendah hati dihadapan Sang Pencipta dan makhluk lain yang diciptakan oleh-NYA.

Kedudukan kita laksana titik yang ada dibawah BA' (huruf Hijaiyah), begitu kecil dan rendah dibandingkan huruf BA' itu sendiri, apalagi dibanding untaian huruf yang membentuk kata, kalimat, cerita dan riwayat2 panjang yang me-legenda, serta kitab2 suci yang di-imani oleh umat manusia.

Karena bingung mengungkapkan keadaan saat ini, maka saya ikut2-an saja 'ngidung' dengan meminjam karya Sri Narendra Kalaseba: Kidung Wahyu Kalaseba, diiringi MIDI Music ditambah Gong gamelan Jawa.

Penulis sengaja memberi ilustrasi disana dengan kepulan dupa atau kemenyan supaya tampak magis. Saya tidak memakai Bukhur oleh2 dari Mekah sebagaimana yang penulis ceritakan di Facebook: 'Anang Ki Gede Pangrango' tanggal 31 Desember 2023.


Ini link-nya:

KIDUNG WAHYU KALASEBA


--<an20240812_1715>--


03/12/2023

ROMANTIKA SISI LAIN DARI TIM DIY MENUJU JUARA FDA NASIONAL


Teman2 PEPADI DIY, pelatih dalang dan pendamping tentu telah berupaya secara total untuk menyiapkan pergelaran terbaik yang mewakili DIY. Perjuangan itu dimulai sejak Festival Dalang Anak (FDA) DIY hingga terpilih tiga dalang: Albertus Kalis, Dimas Alby Ersani Widyaputra dan Davin Mahatma (Wayang Golek Menak). 

Oleh suatu alasan (?), p.Yuwono minta supaya pada dua kali latihan dan sekali Umbul Donga, saya menyiapkan gayor kelir, kotak wayang dan beberapa wayang untuk bisa dipakai di  ruang Bima Disbud DIY Jl.Cendana 11. Sebenarnya agak berat karena saya tidak punya tim angkut dan peniti wayang, selebihnya, wayang saya kualitasnya jauh dari standar wayang untuk pergelaran tingkat DIY.

Karena bingung, saya akhirnya pasrah saja ke ms.Indra Gunawan (Dukuh Ngalangan Sardonoharjo Ngaglik Sleman) untuk njawil teman2 yang kemarin sama2 menyiapkan Merti Padukuhan. Ternyata teman2 (ms.Chusni, ms.Mono, ms.Mumun, ms.Indra dan p.Broto) cukup setiti, maka saya agak mentala melepas perangkat wayang itu untuk digelar di Disbud.

Latihan wayang golek Menak, dilakukan pada Selasa 10 Oktober 2022. Pak Yuwono hanya menyediakan tapak-dara dan debog kecil. Kotak-nya hanya pakai tempat tabuh gamelan, maka masang keprak-nya agak sulit, lagian, setiap keprak di-jejak, kotaknya nggeser. Itupun, menurut Davin dan Ibuk-nya, cangkolan keprak yang terbuat dari wesi-janur (atau kuningan ?) yang dulu dipesan satu set dari Pak Sukur (Moyudan Sleman?), malah tertinggal dan hilang.

Saya kok merasa kasihan dengan latihan itu. Maka saya usulkan, besok kalau Umbul Donga, usahakan supaya wayang golek tetap menggunakan kotak wayang standar pedalangan.

Nge-drop peralatan untuk latihan pertama, Kamis 12 Oktober 2023, jam 09.30 luncur dari rumah dengan debog (pohon pisang) yg sudah disiapkan teman2 di mobil angkutan.

Wayang yang dibawa untuk lakon Bima Maguru (Alby): R.Bratasena, SH.Bayu, SH.Indra, SH.Dewaruci, Naga Gundul Hijau, Dua Buta Ambal (Jurang Grawah dan Buta Punuk) dan Pd.Durna.

Untuk lakon Sang Trigangga (Kalis): R.Trigangga, R.Anoman, Pr.Rama, R.Wibisana, R.Bukbis, Npt.Sugriwa, R.Anila, Pr.Rahwana (pagasan), Dty.Jambumangli (irung bunder, muka biru).

Selain wayang itu, wayang ricikan dan dhudhahan yang dibawa-pun terbatas, hanya tiga kayon (Hutan, Kewan dan Blumbangan), Panakawan (KL.Semar, Gareng, Petruk, Bagong), KL.Togog-Bilung.

Ternyata kotak yang tidak penuh wayang-pun tetap berat saat diangkat ber-empat melalui tangga ke lantai-2, ruang Bima. Krenggosan ..!!

Latihan pertama menjadi agak terburu2 karena ms.Dwi (tim Disbud) ngersak-ke, jam 15 harus selesai, ruang mau dipakai gladi bersih Wayang Wong yang akan melawat ke Semarang.

Syukurlah, latihan itu lancar. Alby tidak bawa wayang, tapi wayang yang saya bawa cukup mewakili, sedangkan Kalis, hanya menggunakan R.Bukbis saja, selebihnya ia sudah membawa sendiri.

Sore itu kotak wayang, kelir dan debog yang sudah terpasang, terpaksa digeser ketepi selatan. Amaaan ... , untung dibantu ms.Agus-HS dan ms.Sunu.

Latihan kedua, Sabtu 12 Oktober 2023, lumayan lancar meski harus mruput nggeser kelir dan kotak wayang.

Tampaknya, melihat kesiapan dua dalang-anak wayang kulit itu p.Yuwono menjadi risau karena menganggap bahwa Davin belum siap sepenuhnya. Bisik2 ke saya, dimana harus latihan yang lokasinya ada di tengah supaya Davin dan teman pengrawit pokok (5 orang) mudah menjangkau. Sy guyoni: "Yang di tengah ya di rumah p.Dukuh saya, Ngalangan". Ternyata p.Yuwono setuju.

Senin, 16 Oktober 2023, bertiga latihan di Ngalangan, sekedar latihan adegan, sabet dan suluk. Saya yang tidak memenuhi syarat sebagai pengrawit-pun akhirnya diminta ikut mendampingi. Sementara p.Dukuh ada acara, maka latihan itu hanya ditunggui Ibuk-nya Davin dan Ibuk-nya Pak Dukuh.

Selasa, 17 Oktober 2023, Davin latihan lagi. Kali ini ada datang ms.Anang Primandaru, mb.Yuli, ms.Kelik dan ms.Aris. Sementara saya dan p.Broto, ikut nabuh Gong (meski salah2).

 

Rabu, 18 Oktober 2023 ada latihan bertiga di Omah Wayang, Jl. Langenastran Kidul, tapi saya tidak bisa ikut menyaksikan. Malam-nya disana ada pergelaran Ki Sugeng Kembar (putra Almarhum Ki Krusuk).

Dari pengamatan di Omah Wayang, p.Yuwono masih 'uring2-an' karena Davin justru lupa adegan perang-nya Jayusman dan Iman Suwangsa. Maka minta sekali lagi ketemu di Ngalangan.

Senin, 30 Oktober 2023, bertiga latihan di Ngalangan lagi, nglanyahke adegan, sabet dan suluk. Tapi Davin tampaknya tenang, beberapa kali ditanya p.Yuwono, dijawab: "Amaaaann".


Selasa, 31 Oktober 2023 Umbul Donga. Alhamdulillah, Puji Tuhan, lancar meski saya beberapa kali kesleo lidah.

Habis pergelaran, ms.Fany Rickyansah (Mas Riky) mendekati saya: "Pak, kalau beberapa wayang p.Anang sy pinjam untuk dibawa ke Jakarta, boleh?".

Biasanya saya memang keberatan karena wayang itu seperti 'tak keloni' mengingat susahnya saat ipil-ipil (mengumpulkan dari satu, .. satu per satu). Tapi entah kenapa saat itu saya justru tidak tega untuk tidak membantu ketiga dalang anak itu.

Permintaan itu saya penuhi. Maka, setelah Umbul Donga dan latihan selesai, Kayon Blumbangan (laut), Naga Hijau, SH.Indra, SH.Dewa Ruci (yang ini saya sempat bingung karena tidak termasuk yang diminta, tapi di kotak saya tidak ada) saya serahkan untuk masuk di eblek-nya Alby.

Sementara itu, Ki Gondo Subroto, Bapak-nya Kalis, minta supaya wayang R.Bukbis dan R.Anila boleh dipinjam juga, tapi akan dipernah-ke dulu gapitnya. Saya setuju saja, ngiras ikut belajar (dari jauh) nggapiti wayang yang benar.

Di lokasi Festival Dalang Anak (FDA) Tingkat Nasional, Gedung Pewayangan Kautaman TMII, anak saya Ida (mantan siswa saya di TAV Stembayo) nusul. Padahal ia tinggal di Jakarta Barat, jarak sekitar 30km. Saya kenalkan ia dengan teman2 ofisioal DIY.

Disela2 cerita dan menjelaskan tentang liku2 FDA, saya tetap konsentrasi untuk mbombong dalang Jogja, setidaknya dengan mendampingi naik panggung. Bahkan Alby yang sudah melangkah ke Gangsa (gamelan), saya panggil lagi untuk memberikan penghormatan ke Dewan Yuri dan penonton.

Anak itu memang jenaka, segera ia mengatupkan dua telapak tangannya dan menunduk hormat, sambil senyum2 dengan gaya khas-nya. Saya gemes dengan lageyan-e itu, makanya saat di Bus, saya guyoni dengan bahasa ngoko: "Nek kowe mengko menang, kuwi ora merga pinter-mu le mayang, ning merga kowe ngguya-ngguyu ..!!".

Alby tampil bagus dan bikin mrinding, sementara Kalis tampil cantik-enerjik, bahkan tampak sebagai dalang yang menguasai banyak hal, dibuktikan dengan janturan dan/atau suluk sambil menata wayang saat jejer pertama dan adegan Mangliawan. Atraksi sabet dan perangnya-pun terampil. Hanya suaranya sedikit terganggu karena masa peralihan dari anak ke remaja, istilah Jawa-nya 'ngagor-agori'.

Davin aneh lagi. Mungkin merasa bahwa masih belum bisa memenuhi tuntutan kualitas yang di-standar-kan p.Yuwono, anak itu memerlukan support lain, malah jadi seperti manja: "Pak Anang, nanti yang masang Mic dan Keprak siapa?". Saya jawab santai: "Kan ada ms.Agus-HS dan ms.Sunu ..!?". Sahutnya: "Nanti p.Anang saja yang masang-kan (ms.Sunu dan ms.Agus nyiapkan wayang)".

Saya dan ex murid saya itu tertawa. Setelah saya konfirmasi ke Ibuk-nya, ternyata Davin kalau lomba hrs di-support Bapak-nya, yang 'masang Mic dan nyetel ketinggian keprak' beliau.

Dan bersyukurlah saya, ternyata celotehan saya, sore sebelum pengumuman, saat duduk2 di konblok (setelah sholat Maghrib-Isya'), di depan Bus kontingen Jogja (ada  Alby dan Ibuk-nya, Davin dan Ibuk-nya, p,Yuwono, p.Broto dan ex.Siswa saya), dikabulkan Tuhan.

Saya bilang: "Jika Tuhan mengijinkan saya membuat skenario kejuaraan, nanti Alby jadi dalang Mumpuni, Kalis dan Davin masuk nominasi kejuaran"

Kemudian kepada ms.Yuwono, saya bilang: "Meski selama ini penjenengan tidak puas dengan tampilan Davin, tapi nanti ms.Yuwono akan kaget jika Davin masuk nominasi".

Sayang-nya Dalang Anak Kategori-A dan Dalang Anak Kategori-B diberlakukan untuk semua jenis wayang. Mungkin selama ini saya salah memahami, tampaknya dulu Wayang Golek dan Wayang Kulit dikelompokkan dalam Kategori terpisah. Jika seperti itu, saya masih berpengharapan Kalis masuk nominasi.

Apapun, kita (kami) wajib mengucap alhamdulillah. DIY menyabet tiga kejuaraan sebagaimana yang saya tulis di Facebook: Anang Ki Gede Pangrango

Selamat dan sukses untuk Disbud DIY, PEPADI DIY, para dalang-anak, pelatih, pendamping, pengrawit-waranggana, tim dokumentasi, tim logistik, awak Bus .. , dan pendukung yang lain ..., semuanya !!.

 

Foto: Danang DS (Pak Broto)

--<an20231203_1239>--

27/09/2023

JAGAD GUMELAR

Lakon ini jarang dipentaskan di perhelatan person maupun instansi. Kebetulan saja Mas Dhukuh Ngalangan (Indra Gunawan) menginginan pagelaran wayang menjadi salah satu agenda diantara gelar budaya yang lain, seperti Hadroh, Pengajian, Dangdut dan Tembang Kenangan (Koes Ploes-an) serta Kirab Bergada sekaligus pengukuhan nama Tombak Pusaka, simbol 3 RW dan penyematan bendera panji 'Tunggul Selamarta'.

Pengukuhan nama tombak Kyai Sela Marta, Kyai Harja Manggala dan Kyai Dipa Manggala diawali dengan penyatuan tiga air kendi-pertala dari Belik Gayam (Ngalangan, RW41), Belik Kyai Slamet (Baransari, RW42) dan Belik Cuwo (Rejosari, RW43) oleh Bupati Sleman, Dra. Hj. Kustini Sri Purnomo pada hari Minggu, 27 Agustus 2023. Selanjutnya dilakukan rebutan gunungan hasil bumi dan kirab bergada Kyai Tunggul Selamarta. Pada acara itu, berkenan hadir dan memberikan orasi budaya singkat, mantan bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, M.Si.

Pagelaran wayang itu sendiri dilaksanakan pada hari Sabtu, 02 September 2023, didukung pengrawit warga Ngalangan yang masih dalam taraf belajar, dibantu beberapa wiyaga yang sudah terbiasa mengiringi wayang kulit dengan rinengga swantening waranggana; sinden senior Nyi Tini Larasati, dibantu Nyi Yanti dan Nyi Hermi.

 


Inilah Link Video Ki Anang Prawoto (Format Video Standard: 640x360).

 

File-00: TALU (MERTI PADUKUHAN)

File-01: JAGAD GUMELAR 01

File-02: JAGAD GUMELAR 02

File-03: JAGAD GUMELAR 03

File-04: JAGAD GUMELAR 04

File-05: JAGAD GUMELAR 05

File-06: JAGAD GUMELAR 06


Pergelaran wayang dilanjutkan Ki Hadi Purwoko, lakon Sri Mulih.

 

File-07: SRI MULIH (LIMBUKAN DAN PAGELARAN NJAWI)



Berikut ini potongan Rekaman Video Ki Hadi Purwoko (Kamera Utama) yang diunggah oleh ABS Audio (DD Chanel Family, Video Format HD: 1280x720).

Goro-Goro: SRI MULIH (GORO GORO)

 

Adegan yan lain tidak terekam karena memori penuh. Demikian juga, rekaman audio ada trouble sejak Talu sehingga kualitas suara tidak begitu jernih karena hanya mengandalkan mic pada kamera yang mana suara disekitar kamera justru dominan.



--<20230927_0439>--

14/08/2023

RENUNGAN 17-AN (TEKS-2)


Teks ini dibuat atas permintaan Dhila, atas tugas dari mas Bagus (Wawan), ketua Panitia Peringatan 17-an  (di RW 43 Rejosari, Jakal 10,5 Jogja) untuk mengisi renungan, nanti pada malam tirakatan 16 Agustus 2023.

Sebenarnya teks renungan yang diunggah di Blog ini pada 16 Agustus 2014 itu lumayan bagus, tapi sudah sering dibacakan, pengin yang sedikit lebih segar.

Inilah teks-nya.



RENUNGAN VERSI-2

 

Seorang anak kecil berlari ceria, meraih kain merah-putih, diikatkan dikepalanya.  Ia berloncatan kesana-kemari sambil berkali-kali berteriak “Merdeka”.

Namun, tertegunlah ayahnya saat anak itu bertanya:

“Ayah, merdeka itu apa?”

Ayahnya terdiam sesaat. Sulit baginya untuk menerangkan kata sederhana itu dalam bahasa anaknya. Yang terucap adalah kalimat klise: “Merdeka itu, terbebas dari penjajahan”.

Dengan wajah polos, bocah itu menatap wajah ayahnya, seakan belum puas atas jawaban itu.

Laki-laki itu sadar bahwa anaknya tentu tidak faham, apa itu penjajahan. Ia hanya mampu menjelaskan sekena-nya, sebatas yang ia tahu.

“Ayah, .. kenapa kita bisa dijajah? ... Kenapa selama itu  kita tidak bisa melawan? ... Dan mengapa kita harus kalah?”

Maka makin gundah-lah hati laki-laki itu karena dirinya tak pandai menjawab dan berkata-kata lagi.

Diraihlah anak kecil ber-paras rembulan itu sambil berucap: “Sudahlah Nak, hari hampir malam, kita bobok dulu.  Besok Ayah akan bercerita lebih banyak, tentang burung Garuda yang terbang dengan gagahnya di langit-biru, juga tentang kakek dan teman-temannya saat ikut perang melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan”.

“Para pejuang itu mengenakan ikat kepala merah-putih seperti yang kau pakai sekarang ini”.

Anak kecil itu tersenyum, dan segera ia terlelap dalam buaian mimpi indah.

***

Duka di tahun 2019

Tak jelas penyebab pasti-nya, tiba-tiba kita diterpa musibah yang mengerikan. Wabah Covid-19  tak hanya membawa derita sakit berkepanjangan, ia juga meminta sangat banyak korban jiwa. Saat itu kita ada dalam ketakutan yang sangat nyata. Ambulans meraung tanpa henti, korban berjatuhan silih berganti.

Masing-masing kita mencoba bertanya dalam hati, apakah ini cobaan, ujian  atau hukuman dari Tuhan  karena kita lupa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh-NYA. Lupa bahwa kita diijinkan tinggal di negeri yang indah dan damai. Ya .. , negeri yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dan membujur dari Nias hingga pulau Rote.

Sementara orang lain menganggap bahwa Indonesia adalah serpihan sorga yang terhampar di khatulistiwa, ...  tapi kita justru terlalu sering  tidak puas atas apapun yang terjadi di negeri tercinta ini. Seakan semua yang tampak hanyalah keburukan yang harus cela tanpa-henti.

Peristiwa lokcdown benar-benar menghentak kesadaran kita bahwa ternyata kita mudah terpancing untuk menutup diri, masuk dalam kelompok yang sempit dan menganggap kelompok lain adalah ancaman baginya. Lihatlah saat itu, betapa banyak terjadi salah-paham oleh karena kecurigaan dan ego yang berlebihan.

Beruntunglah bahwa di dasar hati kita telah tertanam dengan kuat segala petuah luhur dari para-pendahulu  tentang sebuah perjuangan, kebersamaan dan rasa empati yang dalam akan derita sanak-saudara dan tetangga disekitar kita. Dan benarlah, dalam waktu yang tak terlalu lama, kita bisa bangkit kembali.

Kita jadi ingat, salah satu putra terbaik bangsa ini; Jendral Sudirman. Fisiknya boleh sakit parah, namun perjuangan tak kenal menyerah. Beliau mengendalikan Perang Gerilya dari atas tandu sambil berkali-kali menghindar dari sergapan musuh.  Pak Dirman nyaris tak sempat istirahat karena harus selalu berpindah dari medan pertempuran di lembah yang satu  ke lereng gunung yang lain.

Itu semua adalah persembahan seorang kesuma-bangsa bagi negeri tercinta-nya. Sebuah dharma dari seorang kesatria agar Indonesia merdeka, dan tetap merdeka, demi kesejahteraan seluruh rakyat negeri ini.

Nusantara akan selalu semerbak wangi oleh bunga-bangsa yang bertebaran di seluruh persada negeri.

Di sebelah barat sana, di tanah Swarna-Dwipa Sumatra, ada Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol dan Cut Nyak Dhien.

Di Banten ada Sultan Ageng Tirtayasa, di Jawa Barat ada Muhammad Toha dan Dewi Sartika, di Jawa Tengah ada Ibu Kartini, di Kraton Mataram ada Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa, di Jawa Timur ada Bung Tomo,  dan di Bali ada I Gusti Ngurah Rai.

Di Kalimantan ada Pangeran Antasari, di Makasar ada Sultan Hasanudin, di Maluku ada Pattimura dan Sultan Baabullah dan di Papua ada Frans Kaisiepo.

Tentu masih banyak lagi pahlawan-pahlawan yang namanya harum sepanjang masa, jiwanya abadi menggelorakan semangat perjuangan, dan dharma-nya menghiasi hati seluruh anak bangsa.

***

Dalam mimpinya, anak itu menangis sedih karena melihat penghuni negeri ini saling mencaci dan saling menghujat. Jari telunjuk-nya terjulur ke-muka, matanya memerah, pertanda marah dan lupa-diri.

Hati anak itu bergolak. Ia berbicara pada dirinya sendiri:

“Katanya, dulu, segala perbedaan itu membuat kita saling mengenal, jalinan persaudaraan makin kuat dan menjadikan semuanya tampak indah oleh warna-warni pelangi kehidupan”.

“Kenapa kini sepercik perbedaan saja dapat memantik pertikaian, dan nyaris membuat pertumpahan darah sesama anak negeri?”

 

Anak itu berteriak lantang:

“Hentikan ..!!”

Manakala orang yang saling bertikai itu mulai reda, ia berkata dengan suara yang dalam:

“Janganlah bermusuhan, .. mereka semua itu saudaramu. Segeralah bergandeng tangan agar kita kuat. Kita akan bersama-sama membangun negeri ini menjadi mercusuar Dunia”.

Semua tersenyum dan menyatukan tangannya sambil diguncangkan keras, penuh kegembiraan.

Terkejutlah anak itu karena tiba-tiba ia terbangun di sisi Ayah-Ibunya.

 

Dengan terbata-bata ia berkata kepada Ayahnya:

“Ayah, aku sudah ketemu Kakek dan teman-temannya yang sedang berperang. Aku dan teman-temanku juga ikut berjuang di medan yang lain”.

“Apa yang kau lihat disana?”

“Semua ber-ikat kepala merah-putih dan membawa bambu-runcing. Setiap ketemu temannya, mereka selalu meneriakkan sesuatu dengan berapi-api”.

“Maka, kami-pun ikut meneriakkan kata maha-sakti itu  hingga langit seakan bergetar: ... Merdeka .. , Merdeka .. , Merdekaaaa !!”

Dan Garuda itu terbang ke langit tinggi mengitari Nusantara, menjaga negeri tercinta, Indonesia.

 

Teks Oleh:

Anang Prawoto

Mahameru Pancer-Lima

Sabtu, 12 Agustus 2023   Jam 02.55

 

Diunggah oleh Mahameru00:

 Senin, 14 Agustus 2023  Jam 13.20 WIB.