30/08/2016

HUT RI KE-71 REJOSARI SARDONOHARJO




Oleh inisiatip pemuda-pemudi Rejosari  Sardonoharjo  Ngaglik  Sleman  Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu 20 Agustus 2016 dilaksanakan pentas pemuda yang dilanjutkan pagelaran Wayang Kulit dengan lakon "Bambang Gandawardaya".


Sebuah lakon yang mengisahkan tentang seorang pemuda yang telah cukup menuntut ilmu pada seorang brahmana berujud ular dan ia bermaksud menemui ayahnya sekaligus ingin mendarma-baktikan ilmunya untuk Negeri tercinta.


Kepandaian dan kesaktiannya ternyata belumlah cukup untuk menghadapi rumitnya kehidupan, terbukti Bambang Gandawardaya justru bisa diperalat oleh duet 'Patih Sengkuni dan Pendita Durna' untuk menangkap Arjuna, ayahnya.



Merasa kesaktiannya tak tertandingi, pemuda itu makin merasa PD. Ia membawa pasukan Hastina untuk menyerang Amarta. Ksatria Pandhawa beserta putra-putranya dapat dikalahkan bahkan hampir saja negara Amarta dikuasai. Untunglah, Prabu Kresna segera mendapatkan jago seorang ksatria muda bernama "Bambang Gandakusuma".



Pertarungan kedua ksatria muda yang baru saja turun gunung itu menjadi semakin sengit manakala keduanya mulai memegang pusaka sakti pemberian kakeknya. Namun akhirnya kematian dan kehancuran dapat dicegah setelah Hyang Narada menjelaskan kedudukan masing-masih bahwa keduanya adalah putra dari Arjuna.


 

Pagelaran dan pentas seni yang di-desain dengan nuansa Jawa tradisional itu merupakan ide Pemuda melalui ketua Panitianya, Astuti Wulandari. Tratag pagelaran itu dihias dengan bleketepe (getepe) dan janur serta lampu warna-warni, sementara jalan menuju tratag, pada bagian kanan-kiri dihias lampu minyak yang disangga bambu sehingga saat menyala seperti obor kecil
.

Saat jam 24.00, dengan iringan gamelan (Gangsaran, ada yang menyebut Ganjur), pemuda membacakan renungan dengan khidmat (listrik di padamkan, hanya lampu minyak yang menyala tetapi sound system tetap di-ON-kan. Selain itu, ada pula seorang pemuda yang membaca geguritan pendek menjelang Gara-gara.



Pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh Ki Anang Prawoto malam itu didukung oleh karawitan Balai Budaya Sinduharjo (BBS) Jaban yang diperkuat pengrawit senior, Ki Sahari (Sedan, Sariharjo) dan Ki Dalyono (Seyegan) serta beberapa mahasiswa/lulusan ISI Jogja.

 
 
Disisi depan simpingan kanan, tampil tiga waranggana; Nyi Suyati (Ndolo, Wedomartani), Nyi Emi Parti Wibowo (Sempu, Pakem), Nyi Susiani Agus Santosa dan eksibisi siswi SMKN 2 Depok (STM Pembangunan, Mrican) yang tergabung dalam unit kegiatan Persepsi, Apresiasi dan Kreasi Seni  (PAKS); Pramudita Farhan, Sinta Indriastuti dan Viki Ayu Wulandari yang ketiganya adalah siswi kelas XII Program Keahlian Teknik Kimia Analis.

 

Selain itu seorang alumni PAKS yang kebetulan masih famili dari Ki Dalang; Yuarika Nimas Kurniawati (Orin; Palgading, Sinduharjo).ikut pula menyemarakkan pagelaran itu.




Galeri Foto:


Pagelaran Wayang


Renungan HUT RI Ke-71


Ulang Tahun Ketua Panitia (Astuti Wulandari)


Mantan Camat Kalasan (Sukamto), Ketua RW-43 (Raziku Amin, SH.), Rois Ngalangan (H. Endro Harjono), Kepala Dukuh Ngalangan (Sulami HP) dan masyarakat Rejosari RW-43


Panitia HUT RI Ke-71 RW-43 Rejosari


Anak-anak Rejosari masih bertahan hingga jam 23.00 WIB.


MC pada Puncak Acara HUT RI Ke-71 Rejosari (Bagus dan Faisal)


Pemuda dan Panitia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan busana ke-Jawen


Dirigen lagu Indonesia Raya (Devi Ika Saputri)


Tokoh masyarakat menyanyikan lagu Indonesia Raya


Puisi oleh Damar, didampingi Ketua panitia dan MC


Tokoh masyarakat dan warga Rejosari


Lurah Desa Sardonoharjo (Harjuno Wiwoho, SE.)
Ketua RW-42 Baransari (Ki Purwoko), Ibu-ibu Hadroh 'Hidayatun Nisa' Rejosari, tokoh masyarakat, undangan dan warga

Ibu-ibu Hadroh 'Hidayatun Nisa' Rejosari tampil dengan alat yang baru


Potong tumpeng oleh Bp. Harjo Dimulyo, diberikan ke Bp. Anang Prawoto, diserahkan ke RW-43 yang baru (Bp. Raziku Amin, SH.).


Anggota dan alumni PAKS SMKN 2 Depok (STM Pembangunan Yogyakarta; STEMBAYO) didampingi sinden senior (Nyi Suyati)


Silahkan unduh jika diperlukan.

15/12/2015

Komunitas Relawan "BAGONG"


Sore setelah maghrib, penulis tertidur karena kecapekan. Jam 18.14 listrik padam, tetap tidur, toh nanti juga hidup lagi setelah hujan reda.

Tak lama Ketua RT 06 Rejosari Sardonoharjo (pak Saniyo) datang, minta supaya penulis menunggui petugas PLN (yang mematikan aliran listrik) dan teman-teman dari Komunitas Relawan "BAGONG" yang sudah dikontak.

Ternyata ada pohon Mindi yang roboh (karena akarnya lapuk) menimpa tembok longkangan rumah penduduk, melintang jalan yang menuju dusun Gondangan.

Melihat kerja teman-teman "BAGONG" itu, ada rasa kagum tapi juga khawatir karena pak Unyil yang bertugas membawa Sin-So (chainsaw) memanjat tembok batako dan memotong cabang/ranting pohon yang roboh itu begitu berani, seakan tanpa SOP keselamatan kerja, padahal penerangan hanya mengandalkan senter (batteray) kecil dari warga.

Beberapa saat cabang-cabang pohon itu selesai dipotong, tinggal pohon utama yg tersandar pada beton diatas pintu longkangan itu. Saat kayu diatas beton dapat dipotong dan kabel listrik yang tertimpa itu lepas, pak Unyil tergelincir dari tangga dan tampaknya tangan bisa gondhelan kabel yang akhirnya kabel itu terlepas dan melentur keatas. Tidak tahu bagaimana petugas Relawan itu jatuh kebelakang sambil memegang Sin-So, tapi tak lama kemudian ia sudah mengangkat Sin-So lagi dan memotong kayu hingga pohon itu bisa ditarik, dirobohkan ke selatan.

Setelah selesai, semua pada minum kopi di warung. Penulis sempat tanya ke p.Wied dan p.Unyil: "Penjenengan ki gadhah ilmu napa kok menek kaya cecak, dhawah mboten napa-napa?". Teman itu hanya tertawa.

Ternyata dia tinggal di Nglaban (Gentan), utaranya pak Sosial (p.Zulfan), putrane pak (?) yang dulu menyewakan 'Pengeras Suara'. Padahal dulu saat kecil (tahun 76-an) penulis sering main ke dhik Iping (M. Zainal Arifin; putrane paklik Daromi & bu Arodah).

Yang harus di-apresiasi adalah bahwa teman-teman komunitas Relawan "BAGONG" itu benar-benar pekerja sosial untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Setelah minum kopi & rokok sekedarnya, pak RT dan penulis akan memberikan uang pengganti bensin untuk Sin-So, tapi semua menolak karena komitmennya pada tugas Relawan. Ya, kami atas nama masyarakat bisanya hanya mengucapkan terima kasih, semoga jadi amal kebaikan yang akan mendapat balasan dariNYA.

Malam itu dengan pak RT duduk-duduk di warung sambil nunggu petugas PLN lagi. Karena prediksinya akan datang sekitar jam 23-an, akhirnya pulang. Ternyata jam 23.35 listrik sudah menyala.

Pagi ini tadi (15 Des 2015) karena listrik padam lagi, penulis sempat melihat ke lokasi dan memotret. Ternyata disana ada banyak petugas PLN yang bekerja mengganti kabel listrik dan kawat spanner tiang listrik yang putus di Gondangan.













20/06/2015

GENERASI ABAD 21


Sebenarnya gambar ini sudah lama di-upload, tapi lupa belum di-publish. Meski agak terlihat ngantuk, tapi gagah dan cakep, namanya Farrel (Rajwaa Farreli Rifqi Fauzi). Saat gambar diunggah, dia masih kelas XII (kelas-1)  SMPN 1 Wates.

Info terakhir dari Bapak dan Ibunya (Bp/Ibu Eko Wisnu Wardhana dan Bu Retno Giriarti), katanya sebelum Romadhon 1436H ini sudah membiasakan puasa Senin-Kamis.

 




Farrel punya adik, namanya "Gariza Evan". Anaknya rajin membantu orang tua, suka sepak bola dan sepedaan, tapi sehari-hari tidak mau pisah dengan Ibunya. Foto yang unik lain kali saya upload.