08/05/2012

WAYANG MERTI-DHUSUN DI MINGGIR SLEMAN


Berikut ini, rekaman wayang kulit oleh Ki Anang Prawoto dari Sleman Yogyakarta pada acara merti dhusun di Sidomulyo Sendangrejo kecamatan Minggir, kabupaten Sleman yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2005.

Lakon yang dibawakan pada ritual itu adalah "Begawan Sukma Nglembara" yang merupakan sanggit dari babon cerita "Sri Sadana Nitis" oleh Ki Sugi Hadi Karsono (Ki Mas Wedana Sugi Cermosarjono) dari Beji Bantul.

Pengrawit dari Bantul (pimpinan mas Nono, cucu Ki Sugi HK) dengan waranggana Nyi Sujimah (Kembang-kerep Pundong Bantul) dan Nyi Triamin (Gunungsaren Srandakan Bantul).

Ini rekaman wayang siang hari, sedang malam hari-nya digelar wayang dengan lakon "Wahyu Panca Purba" oleh Ki Hadi Sutoyo (putra Ki Sugi HK.) dari Ngentak, Kepek, Jetis, Bantul.

File MP3-nya sudah siap, silahkan coba klik. Seperti file-file sebelumnya, format MP3 ini adalah: Mono, 22,05kHz, 16bit, 48kbps.

NAPAK TILAS MASA KECIL


Perjalanan napak tilas di Sendang-Agung (Sendangagung, sekitar 12 km di sebelah timur kota Rembang Jawa-Tengah) ini dilakukan  pada tanggal 04 Mei 2012 selepas sholat Jum'at.

Desa itu masih jauh dari kebisingan meski jarak ke Jl.Daendels (Pantura) hanya beberapa kilometer. Suasananya tenang tak terlalu banyak berubah.

Ada kali yang meski tidak sejernih air di Sleman, tapi lumayan bening untuk mandi anak-anak kecil yang habis bermain bola dilapangan. Jalan setapak melintas hutan jati.

Gambar/foto-nya nyusul saja.

26/04/2012

Babad Alas Wisamarta di STEMBAYO


Yang ini pagelaran wayang Ki Anang Prawoto pada acara Penyerahan sertifikat ISO 9001:2008 dan HUT ke-37 SMKN 2 Depok Sleman, atau yang dulu terkenal bernama STM Pembangunan Yogyakarta (STEMBAYO), atau STM Mrican.

Pagelaran ini didukung karawitan Sekarsari (pimp. Ki Sahari) dan diiringi waranggana Nyi Sutirah (Jogokerten), Nyi Partini (Tini Larasati; Pondok Wonolelo, Wedomartani Ngemplak Sleman), Nyi Titik Samiarsih (Gedongkuning Banguntapan Bantul), dan penyanyi Rita (siswi SMKN 1 Depok Sleman).

File asli sebenarnya Stereo (56kbps, 22,05kHz), tapi karena beberapa pertimbangan, kami hanya upload dengan format Mono. Keuntungannya, download akan mudah/ringan karena ukuran file menjadi sangat kecil.

Silahkan coba:

HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_1a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_1b.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_2a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_2b.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_3a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_3b.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_4a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_4b.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_5a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_5b.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_6a.mp3 HUT37_STEMBAYO__Ki_Anang_Prawoto_6b.mp3

File gambar dari VCD:
HUT37_STEMBAYO__VCD_Cover_1
HUT37_STEMBAYO__VCD_Cover_1

Wayang HUT SMK Marsudi Luhur 1 Yogya


Untuk memenuhi permintaan teman2, kami akhirnya meng-upload file-file MP3 rekaman wayang kulit oleh Ki Anang Prawoto dengan sedikit edit supaya enak didengarkan.

Untuk upload pertama ini adalah pagelaran pada acara HUT ke-50 SMK Marsudi Luhur 1 Yogyakarta (SMEA Marsudi Luhur, Bintaran Kidul), 14 Agustus 2008.

Pagelaran diiringi karawitan Sekarsari pimpinan Ki Sahari (Sedan Sariharjo Ngaglik Sleman Yogyakarta), dan diiringi waranggana Nyi Sutirah (Jogokerten), dan Nyi Prastiwi (putri dari waranggana RRI Nyi Purwanti; Notoprajan Yogyakarta). Juga hadir bintang tamu Stevanus Prigel 'Dalijo' (Angkringan TVRI Yogyakarta) dan penyanyi Devi Carolina (Senggotan Tirtonirmolo Kasihan Bantul).


File-file MP3 ini sengaja dibuat dalam format: Mono, 56kbps, 22,05kHz agar ringan untuk di-download.

Silahkan coba klik:

HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_1a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_1b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_2a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_2b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_3a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_3b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_4a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_4b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_5a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_5b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_6a.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_6b.mp3 HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk__Ki_Anang_Prawoto_7a.mp3

Dan beritanya ada di file ini:
Berita_KR_HUT50_SMK_Marsudi_Luhur_1_Yk

06/12/2010

LUKA HATI RAKYAT YOGYA








Yk, 06 Desember 2010 
Setelah mengikuti kronologis peristiwa-peristiwa yang menerpa Jogja, kiranya dapat dipahami bahwa hawa panas langit Jogja ini bukanlah sekedar buatan cah angon tetapi lebih nampak sebagai sebuah skenario yang terencana rapi dari kalangan orang-orang pintar dan elit. Untuk meng-counter-nyapun tentu harus oleh orang-orang yang pawai, tetapi tentu harus memiliki integritas NKRI yang utuh dan jiwa kenegarawanan yang teguh.

Sejak Sunan Amangkurat Jawi berkuasa, sudah ada tokoh bermuka dua yang leluasa berkiprah dengan sifat oportunisnya, itulah Patih Pringgalaya. Satu sisi ia mengabdi raja, sisi yang lain mengabdi pada Belanda, sementara jika terjadi konflik antara raja dan penjajah, sang patih julig itu ngugemi aturan; harus memihak Belanda.

Oleh sebab itu, saat Pangeran Mangkubumi (atas jasa besarnya) mendapatkan hadiah tanah yang luasnya melebihi pangeran-pangeran yang lain, patih julig itu menghasut Van Hohendorff untuk mempengaruhi raja supaya mebatalkan hadiah itu. Kanjeng Sunan termakan oleh hasutan dari duet manusia oportunis itu, dan di pisowanan, sang Pangeran yang nantinya bergelar Sultan Hamengkubuwono I itu dipermalukan.

Pangeran Mangkubumi lolos dari keraton Kartasura, dan pecahlah pemberontakan yang menyebabkan palihan negari Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Inipun sebenarnya politik pecah belah dari penjajah. Oleh itu, jika SBY melakukan politik yang sama, akan sangat disayangkan karena pemerintah meniru politik devide et empera-nya penjajah.

Marilah kita lihat beberapa kejadian beruntun dan terstruktur yang bagi masyarakat Jogja dirasa mengusik ketenangan dan melukai hati terdalam:

  1. Ada pengingkaran Ijab Qobul Kraton Yogya dengan RI yang saat itu baru merdeka dimana sebenarnya jika Sultan HB IX egois, tawaran Belanda pada dirinya untuk menjadi Wali Negara yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura itu mestinya diterima.
  2. Ada ucapan SBY yang menyebutkan bahawa: "Raja merangkap Gubernur, adanya hanya Ratu Kethoprak".
  3. Ada ucapan SBY tentang: "Jangan ada monarkhi yang berbenturan dengan konstitusi dan demokrasi".
  4. Ada ucapan kamuflase SBY saat penyerahan penghargaan Ketahanan Pangan: "Saya dan pak Sultan tidak apa-apa ... diadu-adu ..!! Kita harus sabar pak Sultan ..!". Ucapan ini tidak semestinya diucapkan oleh pelempar polemik. Jika pak SBY hanya sebatas penonton, bolehlah mengucapkan seperti itu, tapi selagi dirinya menjadi penyebab sakit hati rakyat Jogja (semoga Sultan tidak terlalu sakit hati), ucapan itu justru menambah luka.
  5. Ada ucapan mendagri; Gamawan Fauzi yang dengan gamblang menjelaskan: "Jika Sultan ingin menjadi gubernur, silahkan mendaftar!". Ini lagi-lagi merendahkan martabat Kraton Jogja yang sebelum bergabung dengan RI sudah lebih dulu punya kedaulatan, kemerdekaan dan tatanan yang mapan, serta memiliki wilayah yang jauh lebih luas dari DIY sekarang.
  6. Ada rumor bahwa pemerintah berpegang pada polling yang hasilnya adalah 71% rakyat Jogja menghendaki pemilihan gubernur. Ini mengherankan, polling oleh siapa dan siapa respondennya? Lagi-lagi pemerintah menyembunyikan identitas lembaga survey itu.
  7. Ditengah-tengah hiruk-pikuk RUUK Yogya, ee.. kok ya tega-teganya UGM memunculkan opini yang mbarung-sinang, dan narung-binuh dengan komentar Gusti Mung dari Kasunanan Solo dan ahli sejarah (ahli ??) yang menyertainya. Dikatakan, Solo, Pakualaman dan Buton akan segera ikut-ikutan menuntut keistimewaan. Ini, .. lagi-lagi politik pecah-belah. Orang UGM lupa sejarah berdirinya UGM.
Dari banyak hal itu, tak semestinya kita gelap mata. Kita harus meyakini bahwa di Republik ini masih ada banyak negarawan tulen yang benar-benar berdharma bhakti untuk Indonesia tercinta. Jika ada satu atau dua yang sedikit aneh-aneh dengan Jogja, kita berlapang dada saja karena sebenarnya mereka itu dalam hati terdalamnya justru mengagumi Jogja: "Betapa hebatnya Kraton, Sultan dan rakyat Jogja". Jika mereka menganggap enteng Jogja, tentu mereka tak akan mau membahas sama-sekali karena reputasinya akan jatuh oleh masalah yang remeh itu.
Oleh karenanya, marilah kita menanggapi berita-berita ini dengan dingin, kalau perlu sambil tersenyum, tertawakanlah diri kita sendiri dan orang-orang yang kokehan polah itu.
  1. Jangan terpancing emosi, biarkan opini berkembeng dengan liar toh di Jogja ini berlimpah para ahli sejarah dan cendekiawan yang bukan saja piawai tetapi juga berhati nurani. Serahkan pada beliau-beliau itu untuk menguji kebenaran sejati.
  2. Jangan berbuat anarkhi karena tampaknya memang ada pihak yang menginginkan masyarakat Jogja berbuat salah sehingga citra Jogja akan rusak.
  3. Meski Kraton Mataram juga tak sepenuhnya terbebas dari sejarah kelam, namun setidaknya kita punya Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sultan Hamengkubuwono I, Pangeran Diponegoro dan Sultan Hamengkubuwono IX yang diakui track record-nya. Sultan Hamengkubuwono X, ibarat buah, mestinya jika jatuh tak begitu jauh dari pohonnya.
  4. Jika Sultan HB X disangsikan kapabilitas dan loyalitasnya pada RI, tokoh-tokoh RI yang lainpun perlu dipertanyakan. Toh sampai sekarang kehebatan RI yang mendewa-dewakan demokrasi dan yang pemerintahannya dikelilingi oleh para Profesor Doktor dan orang-orang billiant, tetap saja tidak mampu menyamai kehebatan Majapahit atau Sriwijaya. Padahal Majapahit dan Sriwijaya itu monarkhi ya.. ??
  5. Jogja pantang mengemis akan sebuah pengakuan. Jika kasus RUUK ini berlarut-larut dan tak ada ujung-pangkalnya, Insya Allah akan ada peristiwa besar yang justru akan menempatkan Jogja pada taraf kepercayaan tertinggi di negeri ini.
  6. Fakta sejarah membuktikan, dulu setelah Jogja menyatakan bergabung dengan RI, tak lama kemudian iibukota harus pindah ke Jogja. Ini artinya Jogja lebih hebat karena menjadi benteng terakhir RI.
  7. Akhir pemerintahan presiden Suharto, pengamanan demo mahasiswa di berbagai tempat harus memakan banyak korban. Pada 20 Mei 1998 dihadapan lebih dari 500 ribu masa, Sultan Hamengkubuwono X dan Sri Paduka Pakualam VIII membacakan maklumat reformasi, dan sehari setelah itu pak Harto mengundurkan diri. Apakah ini sekedar kebetulan? Kerumunan masa pada saat itu sangat mudah untuk dipicu ke arah anarkhis, bahkan rencana demo besar-besaran di depan gedung MPR-DPR Jakarta yang sedianya akan dihadiri pak Amin Rais justru dibatalkan karena pertimbangan keamanan. Kenapa masyarakat Jogja yang ngumpul di alun-alun utara Kraton itu aman-aman saja padahal mereka datang dari 9 penjuru (pintu masuk)?
  8. Dari sisi emosional dan psikologis, masyarakat Jogja tentu lebih sepakat jika 'tidak ada pemilihan', adanya adalah penetapan. Sultan yang bertahta secara otomatis adalah Gubernur. Jika perlu, tidak usah pakai kata 'Gubernur', adanya ya Sultan itu saja, toh ada Ijab-Qobul yang menyatakan bahwa Sultan bertanggung jawab kepada Presiden. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana perumusan aturan supaya Sultan Jogja tidak tergelincir pada penyalah gunaan kekuasaan seperti SDISK Sunan Amangkurat Agung yang dicatat sejarah sebagai raja yang kejam itu..
  9. Praktek monarkhi bukan semata-mata menjadi 'trade mark' Kraton saja, penguasa yang dipilih langsung oleh rakyatpun bisa jadi punya kecenderungan main kuasa melebihi seorang Sultan yang negerinya 'Hadiningrat'-nya dikatakan monarkhi.
[an,20101206_1302]

01/12/2010


PAK SBY ANTI KRATON JOGJA?


Kukira sindiran menyakitkan tentang 'Ratu Kethoprak" atas Sultan Hamengkubuwono X beberapa waktu yang lalu oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) hanya berakhir disitu. Ternyata, setelah rakyat Yogya disibukkan oleh hajatan gunung Merapi (26 September, 5 November 2010), SBY lagi-lagi mengoyak ketenangan rakyat Mataram dengan statement-nya tentang monarchi vs demokrasi di Indonesia.


Sebenarnya, sebagai rakyat jelata, kawula Jogja tentu tidak begitu mempermasalahkan dengan konsep-konsep demokrasi atau monarchi. Yang lebih penting adalah jaminan kesejahteraan, ketenteraman, keamanan, keadilan ... dan ... dan .. dan .... !!


Awan Jogja memanas setelah Sultan-pun menanggapi statement itu di beberapa stasiun TV atau radio. Rakyat yang diwakili para perangkat dusun dan desa bergejolak, dan hari ini (Rabu, 01 Desember 2010) rencananya akan ada gerakan pernyataan sikap ala Jogja di depan gedung DPRD.


Akankah Jogja REFERENDUM .. ??

[an.20101201_10.35]

22/11/2010

HUJAN KERIKIL MALAM JUM'AT PAHING


Yk, 22 Nov 2010
Meminjam istilah mbah Rono, akhirnya Merapi memenuhi janjinya. Jum'at Pahing 05 November 2010 dini hari (sekitar jam 00.30 WIB) Yogya hujan abu, pasir dan bahkan kerikil.

Petang hari sebelumnya, penulis sedang main2 dengan PC, tiba2 ada gempa ringan tapi aneh karena guncangan itu arahnya kebawah-ketas (vertikal). Tanya sana-sini kok tidak merasakan, balik nulis di komputer lagi.

Agak malam, terdengar suara seperti truk besar yang dihidupkan (gas stasioner): "Grungg .. grungg .. grungg ..!!". Penulis keluar lagi, niling-nilingke tetapi sepertinya tidak ada truk parkir di Jl. Kaliurang dekat rumah. Nulis lagi, .. dengar lagi ..!!

Akhirnya penulis mendatangi pemuda/ peronda yang sedang berdiri di dekat mushala. Dia bilang, Merapi makin bahaya. Penulis balik ke rumah untuk memantau lewat siaran TV, sementara Jl. Kaliurang sudah sangat gaduh oleh arus lalu-lintas kearah Yogya.

Penulis keluar, cerita-cerita dengan beberapa teman dan famili sambil sesekali mengomentari suara gemuruh/ menggelegar dari arah gunung Merapi

Tiba-tiba terdengar suara kemrosak yang kemudian diikuti suara pating klithik diatas genting. Teman-teman berteriak panik: "Hujan kerikillll .... !!".

Penulis minta kepada famili (termasuk paklik yang sedang terapi stroke) untuk siap-siap jika keadaan memburuk harus segera mengungsi. Ee .. lha kok listrik padam. Permintaan penulis kepada anggota keluarga akhirnya dinaikkan statusnya menjadi komando mengungsi.

Anggota keluarga yang sehat segera berkemas, sedang paklik yang sedang kurang beruntuk kesehatannya itu segera penulis gendong masuk ke van (mobil grobak). Skeluarga mengungsi di adik, di belakang SD Setan Maguwoharj.

Rencana semula, penulis akan kembali lagi ke rumah setelah mengungsikan famili karena teman-teman dan pemuda tentu berjaga-jaga dirumah. Sayangnya, adik yang suaminya tugas di Semarang itu melarang penulis pulang, alasannya dia lebih tenang kalau semua ngumpul disana.

Penulis kontak dengan teman-teman kampung supaya berkoordinasi satu dan lainnya, juga penulis kontak famili luar kota, semua masih aman2 saja.

Anehnya, begitu pagi penulis pulang, kok ya semua ikut pulang lagi meski harus tertatih-tatih katanya lebih merdika kalau di rumah.


[an.101122_11.40]