18/06/2022

KERONCONG MAHAMERU DI YOUTUBE

Lagu ini hanya 'rekondisi' dari MP3 Mahameru di Blog beberapa tahun yll.

Rekaman di studio mini Mahameru Jakal 10,5 dan gambar2-nya nitip difotokan saat ada tour ke Bromo pada 27 Mei 2022, sementara saya tdk bisa ikut krn bersamaan acara Festival Dalang Anak dan Remaja di Sleman.

Kebetulan, beberapa waktu berikutnya ada famili juga touring kesana bersama PDAM Kulon Progo, saya pesan foto lagi. Gambar2 dan video itu dikombinasi, jadilah klip ini.




Link-nya: KERONCONG MAHAMERU


28/05/2022

IKRAR SYAWALAN

Menjelang habisnya bulan Syawal 1443 Hijriyah ini tentu banyak acara Halal Bi Hahal diselenggarakan di berbagai kampung, padukuhan, bahkan lembaga swasta atau kantor pemerintah.

Bagi yang menyelenggarakan di masyarakat, sering kita kesulitan mencari pemuda-pemudi yang membawakan Ikrar Syawalan, baik yang dilakukan dengan dua personil (perwakilan pemuda dan pini-sepuh) maupun yang diucapkan (di-ikrarkan) bersama dengan salah seorang menjadi pemandu.

Berikut ini contoh teks Ikrar Syawalan 'ala kadar-nya' yang diucapkan bersama dengan seorang pemandu.

Jika akan di-copy ke Ms-Word, diseyogyakan untuk memilih Font 'Calibry 16' agar mudah dibaca pada ruang yang penerangannya pas-pasan.



============================

IKRAR SYAWALAN 1443 HIJRIYAH
RW.43 REJOSARI, PADHUKUHAN NGALANGAN, SARDONOHARJO
NGAGLIK SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SABTU, 28 MEI 2022
DI MUSHALA ‘AL-HIDAYAH’

PENGANTAR:
BAPAK-IBU, MANGGA KITA SAMI NGIKRAR-AKEN ‘HALAL BI HALAL’ SESARENGAN.
KALIMAH IKRAR-IPUN BADHE KULA WAOSAKEN, MANGKE BAPAK-IBU NGAMBALI (NIROK-AKEN UTAWI MENIRUKAN).


ASSALAMU’ALAIKUM  //   WARAHMATULLAHI   //  WABARAKATUH  //.

MINANGKA TIYANG ANEM  //
KEPARENG MATUR  //  DHUMATENG PARA PEPUNDHEN  //   PARA SEPUH //  PARA SESEPUH  //   PARA ALIM-ULAMA  //   PARA PANGARSA PE-PRENTAHAN  //   WONTEN ING  //   RW KAWAN-DASA TIGA  REJOSARI  //  LAN ING PADHUKUHAN NGALANGAN  //,

SEPISAN  //.
NGATURAKEN SUGENG RIYADI  //  SEWU KAWAN ATUS  //  KAWAN DASA TIGA  HIJRIYAH  //,
TAQOBAL-ALLAHU   //   MINNA WAMINKUM  //.

KAPING KALIH  //.
SAK KATHAHING KALEPATAN  //   SAHA KHILAF  //   AWIT LAMPAH SE-TINDAK  //   WIRAOS SE-KLIMAH  //  INGKANG NDADOSAKEN  //   MBOTEN RENA ING PENGGALIH  //,
KANTHI TULUS  //   LAN ANDHAP ASORING MANAH  //   KULA NYUWUN  //   AGUNGING PANGAPUNTEN  //.

KAPING TIGA //.
MAWANTU-WANTU  //   KULA NYUWUN  BERKAH PANGESTU  //  LAN TAMBAHING DONGA PAMUJI  //   MURIH PINARINGAN  //   KAWILUJENGAN  //   LAN KASEMBADAN  //   SAK SEDYA KULA  //.


MINANGKA TIYANG SEPUH  //
KEPARENG ANANGGAPI  //  DHUMATENG PARA MUDHA  //   KADANG ANEM  //   LAN INGKANG KE-PERNAH  //   PUTRA WAYAH  //.

SEPISAN  //.
NDHEREK NGATURAKEN  //   SUGENG RIYAYA IDUL FITRI  //   MINNA WAMINKUM  //   TAQOBAL YA KARIIM  //   MINAL AIDIN WAL FAIZIN  //.

KAPING KALIH  //.
SEDAYA TIYANG  //   TEMTU GADHAH LEPAT  //   SEMANTEN UGI KULA  //   PRAMILA  //   
ING DINTEN FITRI MENIKA  //   MANGGA KITA HALAL-AKEN  //   SEDAYA KE-KHILAFAN KITA  //   MUGI GUSTI ALLAH  //   NGLEBUR DOSA-KALEPATAN  //   KITA SAMI  //.

KAPING TIGA  //.
KULA TANSAH NDEDONGA  // MUGI-MUGI  //   GUSTI TANSAH PARING  //   KA-WILUJENGAN  //   KESEHATAN  //   KE-SUKSESAN  //   REJEKI INGKANG BAROKAH  //   KELUARGA INGKANG SAKINAH  //   PUTRA SHOLEH SHOLIHAH  //   BAHAGIA DONYA AKHIRAT  //.

MUGI-MUGI  //   GUSTI ALLAH RIDHA  //   DHATENG IKRAR KITA  //   AAMIIN ...  //.

============================

--<20220528_1837>--

19/04/2022

WAYANG 2016 DI YOUTUBE

Ini hanya cuplikan hasil convert video format  4:3 PAL DVD (720 x 576) ke  format 16:9  Youtube  (640 x 360) dari file pagelaran wayang HUT RI Ke-71 yang sudah diunggah di Blog ini, 

Saat itu, selain dudukung sinden profesi, tampil pula 4 siswi anggota alumni PAKS SMKN 2 Depok (STM Pembangunan Yogyakarta: Stembayo), ngiras latihan dengan 'seniman sungguhan'.

Berikut link Youtube-nya.

Disk 1: Bambang Gandawardaya 1

Disk 2: Bambang Gandawardaya 2

Disk 3: Bambang Gandawardaya 3

Disk 4: Bambang Gandawardaya 4

Disk 5: Bambang Gandawardaya 5

Disk 6: Bambang Gandawardaya 6

Disk 7: Bambang Gandawardaya 7

Disk 8: Bambang Gandawardaya 8


 



Jogja Utara, Selasa, 19 April 2022, Jam 04:32




24/03/2022

MEMUSNAHKAN WAYANG?


Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan oleh beredarnya video kontroversi dari seorang ustadz yang ‘merekomendasi’ untuk memusnahkan wayang dan tobat nasuha bagi pemiliknya.


Spontan video itu mendapat respon yang masif dari netizen karena ustadz tersebut seakan menorehkan stigma haram pada karya seni pedalangan serta mengusik eksistensi ormas keagamaan yang menjadi penerus perjuangan Wali Sanga yang memanfaatkan gamelan dan wayang sebagai media dakwah kala itu.

Bagi yang memahami wayang dengan segala aspeknya, tentu mafhum bahwa media dakwah ini sangat kompatibel dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW, disana ada teladan akhlakul karimah, kemasyarakatan, ekonomi, hukum, politik, spiritualitas dll.

Dilain pihak, wayang menyatukan umat dalam suasana yang hangat melalui kesamaan emosinal; karena dalang, lakon, pengrawit atau waranggana idolanya. Pantas saja dulu Kyai Chudlori (Ponpes Tegalrejo) mengambil keputusan nyleneh yang jika orang tidak cukup ilmunya tentu akan mencemooh sikap itu. Bagaimana tidak, saat datang sekelompok anggota masyarakat yang berselisih atas pemanfaatan uang kas, ulama kharismatik itu justru menyarankan untuk membeli gamelan lebih dulu.

Faktanya, oleh keberadaan gamelan itu, orang berdatangan dengan sukarela dan barulah dakwah dilaksanakan secara santun tanpa ada friksi yang berarti karena sifat momong, momot dan momor dari Sang Kyai. Tak lama kemudian ternyata masyarakat justru mampu membangun masjid dengan dana swadaya.

Perdebatan halal haramnya wayang sudah dikompromikan saat Sunan Kalijaga ingin membuat Wayang Thengul, sementara Sunan Giri melarang karena menggambar makhluk yang bernyawa hukumnya haram apalagi membuat wayang tiga dimensi yang menyerupai patung atau berhala. Maka ditengahilah dua pendapat itu dengan menciptakan wayang berbentuk pipih dan tangannya sangat panjang, jadilah Wayang Kulit.

Kompromi itu juga berlaku pada Wayang Golek Purwa dan Wayang Golek Menak. Boneka wayang itu dibuat buntung (hanya kepala sampai perut), selebihnya dihias kain sampai bagian bawah.

Selain melalui bentuk fisik, para Wali juga menyematkan kalimat tauhid pada tatahan wayang disamping pesan-pesan moral pada busana dan asesoris masing-masing tokoh. Pantas saja dalang tidak mau nglangkahi wayang karena hal itu dianggap pamali.  Mereka begitu ta’dzim pada wayang, bahkan sering seorang dalang menempelkan wayang di dada atau bahkan menciumnya. Itu ungkapan mahabbah kepada Allah yang lafadz-nya terukir pada wayang.

Jika boneka wayang itu akan dipergelarkan, diperlukan iringan gamelan. Sajian ‘orchestra’ gamelan yang rampak-sigrak, bagus dan apik  adalah pesan bagi masyarakat untuk hidup harmonis, taat aturan dan saling tenggang rasa. Masing-masing faham perannya, kapan harus lembut, bersuara keras, berjalan cepat dan kapan harus berhenti.

Dengan meminjam istilah dari seorang ulama, suara gamelan yang dominan ‘Nang, Neng, nDang, Gung’ itupun menjadi pesan spiritual; “Kena nang kana, kena neng kene, nanging aja ketungkul, ndang-ndang manembah-a marang Kang Maha Agung”. Dan bahkan sesaji kembang-telon; Mawar, Kenanga, Kanthil, itupun sarat dengan pesan: “Urip iku mawarna-warna, kena-ngana, kena-ngene, nanging aja lali tansah kumanthil marang Gusti Kang Maha Kuwasa”.

Maka, apakah waranggana yang duduk manis timpuh dan pengrawit yang bersila tafakur (wiyogabrata) itu masih dianggap kurang sopan? Apakah busana dengan surjan (baju taqwa) dan iket-blangkon yang menyerupai sorban itu juga buruk? Allahu a’lam bish-showab.

 Sikapi Positif

Gerakan anti budaya harus dihadapi, tidak dengan cara anarkhis namun dengan cara yang berbudaya, bermartabat dan terpelajar. Ini justru membuka peluang untuk lebih banyak menggarap  pedalangan dengan karya kreatif tanpa mengesampingkan makna yang esensial, mendidik, mencerahkan, menyemangati dan menghibur masyarakat. Tentu ini akan sangat mambantu pemerintah dalam banyak hal, terlebih dalam menumbuh-suburkan jiwa Pancasila dan Bela Negara.

Yakinlah bahwa “Pil Pahit” ini menyehatkan. Setidaknya seniman pedalangan menjadi tergugah daya juangnya, tumbuh rasa kebersamaannya, dan menyala jiwa kebangsaannya. Semoga ini semua justru akan mengembalikan wayang pada marwahnya sebagaimana saat ditangan para Waliullah.

 

Anang Prawoto
Pecinta Pedalangan
Tinggal di Jakal km. 10,3

Jogja

Kamis, 24 Maret 2022 Jam 00:35

05/08/2021

SIO MAMA (LAGU POP DAERAH AMBON)

Yang ini memang tidak ada ingatan khusus karena memang belum pernah tinggal berlama-lama di Ambon. Jalan-jalan di sekitar pelabuhan hanya saat sembahyang Jum'at di masjid dekat Dermaga; Masjid Al Fatah.

Selebihnya, hanya jika mau/dari pulang mudik dan kapal singgah di Ambon 4 jam. Itu menjadi kesempatan baik bagi saya dan teman-teman untuk jalan-jalan ke kantor Depdikbud Provinsi Maluku, sekalian ngurus administrasi kepegawaian jika ada hal yang penting.

Diluar itu, hanya sekali jalan ke rumah Bu Els Akuywen (mungkin ejaannya salah) di daerah Kuda Mati (atau Karang Panjang?). Saat itu saya harus pamit karena pindah dari Ternate ke Jogja. Beliau ini banyak membantu teman-teman perantau di Ternate jika ada urusan kepegawaian.


 Link MP3: 

SIO MAMA (Lagu Pop Daerah Ambon)

 

Ternyata merantau 8 tahun di Maluku Utara (saat itu masih kabupaten)  di pergantian era ’1980-an ke ’1990-an kala itu memaksa diri ini untuk banyak belajar berbagai hal, terutama tentang kehidupan.

Sekarang baru berfikir, kenapa dulu saat datang harus kost di Umi (Arab), dan saat ingin pindah minta dicarikan kost yang pintu kamarnya kangsung menghadap keluar, dapat di keluarga Imam/Khotib Masjid Agung Ternate (Masjid Arab) dan ustadz itu se-lifting Ustadz Gani Kasuba (lulusan Al-Ashar) yang sekarang jadi Wakil Gubernur Maluku Utara.

Ustadz itu bernama Fauzi Aziz (panggilannya 'Oji'), beliau tiap waktu ngaji (seperti menghafal Qur’an atau bahasa Arab) dan disuarakan agak keras. Saya sering bercanda dengan beliau karena cukup jenaka, apalagi anak laki-lakinya yang masih TK (?) berbadan tambun itu, lucu.

Meski tinggal serumah dengan ustadz Oji, tapi saya lebih akrab dan sering 'baku gara' (saling ngerjain; nge-prank) dengan adiknya, namanya Faruk Aziz (tinggal bersama istrinya; 'Ad' atau 'Aad'.. , saya kurang paham ejaannya, dan anak perempuan seusia SD), rumahnya di seberang jalan (Jl. Rambutan) Kampung Makassar (dekat kuburan Islam).

Satu lagi, mungkin yang tertua dari putra2 keluarga Azis (benar-benar keturunan Arab), namanya Faisal Azis. Beliau juga ramah tapi jarang ketemu karena kerja sebagai wartawan. Saat itu aktif di koran Suara Maluku. Seingat saya beliau punya putri semata wayang yang saat itu masih SD atau SMP, namanya Fadhila, anaknya hitam manis.

Ini kenang-kenangan foto kartu Lebaran dari beliau.

Keluarga besar Ibu Lulu Azis (saat itu usia kura-kira 65-an tahun) itu tak beda dengan Umi yang tinggal di Belakang Benteng Oranye; 'gemati' sama saya, mungkin dianggap sebagai 'anak ragil' dari Klan Arab itu. Atau bisa jadi saking mesakke karena postur saya kecil dan wajah saya memelas.

Barulah kira-kira tahun 1989 saya bergabung dengan teman-teman untuk nyewa satu rumah di daerah Santiong (dekat kuburan Cina), rumah beratap seng dan plafon-nya menggunakan pelepah sagu yang disusun membujur.

Pemilik rumah itu seorang nenek bermarga 'Teng' dari Tidore. Namanya keren dan terkesan masih Nona2; ‘Hadinda Tarumadayo’.

Meski sudah sepuh dan jalannya agak susah karena sedikit gemuk, tapi suka cerita dan bercanda. Putra beliau yang posturnya agak mirip adalah Om Luthfi, sedang kakaknya yang bernama Muchtar Teng (?) malah mirip suaminya bulik saya yang tinggal di Mancasan Pandowoharho Sleman.

Keluarga Teng itupun begitu baik, kami layaknya menempati rumah famili yang kebetulan tidak dihuni. Masih lagi didukung tetangga yang ramah, rasanya seperti tinggal di bumi kelahiran, bahkan jika ada acara baca-doa (tahlil) kami ikut diundang, padahal jika acara itu terbatas, biasanya yang diundang tak lebih dari 25 orang.

Benarlah pepatah 'Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung', dan untuk segala kebaikan itu, saya hanya bisa membalas dengan doa: “Semoga Tuhan memanjangkan usia saudara-saudaraku disana, melapangkan rejeki, dan selalu dilimpahi berkah serta kemuliaan dariNYA”.

Maka lagu SIO MAMA ini menjadi ungkapan kangen seorang ‘anak Maluku’ yang merantau lama dan belum sempat pulang.

Saya yang tinggal disana hanya 8 tahun saja kangen untuk datang berkunjung lagi, apalagi anak asli Maluku, tentu sangat rindu untuk kembali, bermanja dipangkuan bumi leluhur, memeluk Papa/Mama-nya yang sudah makin tua, mencium tangan dan bersua dengan penuh kehangatan, serta bercanda dengan teman-teman lama disaat ia masih kecil/remaja.

 

-- [an20210805_0021] --

21/10/2020

MENERKA MAKNA ULAR DI MAGANGAN KRATON JOGJA

 

Pagi itu, Kamis, 15 Oktober 2020, teman datang ke ruang penulis, tetapi karena urusan pekerjaan yang mendesak, teman itu hanya menunjukkan foto 'ular melingkar di saka Magangan' dan bilang untuk nanti cerita diteruskan lagi. Tetapi hari itu, penulispun juga harus luncur ke Sleman untuk sebuah ATK yang tertinggal karena kelalaian pada Rabu malam-nya, dan pagi itu harus meyakinkan benda itu ada dimana.

Hari ini penulis coba cek ke beberapa surat kabar online, ternyata banyak yang menulis peristiwa itu, bahkan diperkuat dengan pernyataan Romo Tirun (KRT. Jatiningrat) bahwa kejadian itu aneh, misterius, tapi memang banyak hal aneh sering terjadi di Kraton.

 

Ular Yogyakarta

Foto dari: 

https://nusadaily.com/nusantara/ular-melingkari-soko-bangsal-magangan-keraton-yogyakarta-pertanda-apa.html

 

Tentu peristiwa itu memunculkan banyak spekulasi, ada yang menganggap itu hal biasa sebagaimana perubahan cuaca dari kemarau menuju penghujan, ular akan mencari tempat baru yang lebih nyaman.

Apa pula yang menganggap bahwa gambar itu hanya karya kreatif para ahli Photoshop, Coreldraw atau aplikasi grafis yang lain, yang dengan kepiawaian tangannya bisa membuat gambar yang seolah-olah nyata, tampak bukan editan.

Sisi yang lain, ada yang menghubungkan peristiwa itu dengan kondisi demo UU Cipta Kerja yang berkepanjangan dan anarkhis.

Yang lain dan yang klenik, menghubungkan peristiwa itu dengan sasmita kondisi negeri ini, apalagi Romo Tirun yang notabene cucu Sultan HB VIII itu menanyakan dan menegaskan bahwa sisik ular itu seperti 'beras wutah' yang dalam dunia tosan aji itu merupakan salah satu jenis pamor keris; wos wutah atau beras wutah yang bermakna doa kemakmuran atau kelimpahan bahan pangan.

Terus, makna sesungguhnya apa?

Ya tentu kita tidak tahu.

Tapi mari kita runut rangkaian peristiwa yang unik.

 

Pertama: pada tanggal 20 Oktober 2019 pasangan Presiden-Wakil Presiden (Ir. Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin) dilantik.

Kedua: pada akhir Desember 2019 Wuhan (Hubei, China) terjangkit Corona-19, dan Indonesia masih tenang-tenang saja.

 Foto (Cropping): https://www.google.com/maps/place/Hubei,+China/

Benarkah ini wabah alami? Atau ini sebuah perang baru dengan menerapkan senjata Biologi? Tidak mudah untuk menemukan kebenaran berita yang sudah hirup-pikuk dan masif.


Ketiga: pada bulan Februari, terjadi musibah susur sungai Kali Sempor yang meminta korban 10 siswi SMP Negeri Turi, Sleman, DIY.  Dalam peristiwa itu salah satu inisiator MAHAMERU harus bertanggungjawab bersama dua rekannya. Alhamdulillah guru-guru itu ikhlas menjalani konsekuensi  hukum sebagai bentuk penyesalan, rasa empati dan laku prihatin.

Sebenarnya, hari Jum'at 21 Februari 2020 itu, saat penulis berhenti di traffic light pertigaan Jl. Palagan dan Jl. Damai, tampak benar betapa mendung di utara sana begitu tebal dan hitam pekat. Dalam hati penulis nggrahita: "Mendung seperti ini kalau tidak puting beliung, petir yang mengerikan, ya hujan sangat lebat".

Ada perasaan menyesal karena saat itu penulis berdoa kepada Tuhan agar mendung itu jangan dulu jatuh menjadi hujan sebelum saya sampai di Pajangan Sleman. Refleks saya meniup awan itu dari jauh, seakan-akan merasa bahwa diri ini sakti dan mampu menghalau awan.

Saat penulis ada di atas panggung wayang di depan Pendapa Kabupaten Purworejo (mensupport teman dalang dari ISI Jogja yang pentas atas fasilitas dari Disbud DIY), phone berdering mengabarkan musibah Kali Sempor.

Dalam hati begitu menyesal, kenapa tadi siang harus berdoa dan berulah seakan-akan orang sekti mandraguna dengan meniup awan. Kalau doa itu diijabah Tuhan, maka penulis harus merasa ikut bersalah karena doa itu semata-mata terdorong rasa egois; ingin tidak kehujanan tapi membiarkan awan hitam itu makin menggumpal dan jatuh menjadi hujan yang luar biasa derasnya hingga mendatangkan bencana. Ini pelajaran baru, ternyata doa yang egois bisa mendatangkan petaka bagi orang lain.


Keempat: Keris Kyai Naga Siluman, pusaka Pangeran Diponegoro (Dipanegara) yang dibawa oleh Belanda pada tahun 1931, dikembalikan ke Indonesia pada tanggal 10 Maret 2020.

Pusaka adalah sipat kandel yang mensugesti pemegangnya merasa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta sehingga keberaniannya meningkat dan semangatnya berapi-api.

Perang Diponegoro atau Perang Jawa selama 5 tahun itu memang rumit. Perang itu bisa dimaknai sebagai perlawanan seorang putra raja yang menghadapi ketidak-adilan, tapi juga bisa dimaknai sebagai perang sabil (perang suci) menegakkan balad Islam karena banyaknya ulama yang berpihak kepada Sang pangeran.

Disisi lain, perang itu juga bisa dimaknai sebagai perlawanan rakyat yang sudah terlalu lama dijajah Belanda, atau perang mengembalikan martabat Keraton Jogja karena ulah negatip oknum perwira dan sinyo-sinyo Belanda yang melecehkan harkat Keraton Jawa, sementara Keraton sejak semula selalu dijaga keagungan dan kesakralannya sebagai tempat suci bersemayamnya seorang Sayyidin Panatagama yang merupakan manifestasi (pangejawantahan) Raja Gung Binathara, Wakil Tuhan di bumi atau Kalifatullah.

Harga yang dibayar untuk Perang Jawa itu bergitu besar. Bukan hanya tenaga dan harta tetapi juga nyawa dan kedaulatan Mataram Yogyakarta yang menjadi sempit karena beberapa wilayah harus diambil oleh Belanda untuk menukar beaya perang.

 

Kelima: Oleh karena wabah (pandemi) Covid-19 yang makin merebak dan banyaknya korban yang silih berganti, lockdown menjadi tindakan tanggap darurat yang diberlakukan dimana-mana meski istilah itu sendiri sangat tidak disarankan karena terkesan sangat mengerikan.

Isolasi mandiri dengan melarang waga keluar masuk kampung, atau melarang sama-sekali orang dari luar  memasuki kampung menjadi tindakan yang diyakini banyak orang sebagai 'yang harus dilakukan'. Penjagaan sangat ketat, melebihi ronda kamtibmas pafa masa-masa sebelumnya. Perangai kita-pun menjadi sedikit sangar karena ketakutan yang berlebihan dan terlalu banyaknya kecurigaan yang berhubungan dengan kesehatan dan keamanan.


Keenam: Peristiwa ular melingkari saka di Magangan itu ada yang menghubungkan dengan 'Ular Ouroboros' yang menjadi simbol siklus keabadian versi Mesir kuna.

Memang kalau mengacu angka, nilai tertinggi adalah sembilan, dan itu bersesuaian dengan peringatan wafatnya Sultan HB IX (saat teman memberitahu tentang ular di Magangan, itu pas Kamis Wage, peristiwanya sendiri konon tanggal 8 Oktober).

Jika sekarang Sultan  HB X diartikan sebagai titik stasioner yang bernilai 10 atau kembali ke 0, maka akan mulailah siklus baru, dari angka 1 yang tentu harus melalui banyak perjuangan karena alam dan jaman sudah berubah.

 

Ketujuh: Kembali ke situasi normal dengan tatanan dan budaya yang baru.

Tapi akankah keadaan itu terjadi bersamaan, nanti Indonesia dengan Ibukota fisik/formal di Jakarta (atau tempat yang baru) dan ibukota ruh NKRI di Mataram (Yogyakarta) akan benar-benar menjadi mercusuar peradaban?

Dan, apakah nanti bebasnya tiga orang guru yang menjalani hukuman karena duka susur sungai Kali Sempor itu akan bersamaan dengan hilangnya Pandemi Covid-19 sehingga anak-anak kita boleh kembali ke sekolah karena gurunyapun sudah boleh kembali ke sekolah?

Wallahu a'lam.

 

Kita tidak punya hak untuk membuat skenario, tetapi setidaknya kita boleh berdoa semoga semuanya akan segera menjadi baik seperti semula, atau bahkan lebih dari itu.

 --[20201021_1030]--

21/07/2020

KAYU WREGU PUTIH

KARAKTER SISWA KITA AKAN SEPERTI APA
Oleh: Anang Prawoto

"Agni. Pusaka yang aku katakan itu, masih harus dicari. Aku hanya dapat menunjukkan kepadamu, tempat dan bentuknya. Semoga kau akan dapat menemukannya".

"Apabila kau berhasil Agni, maka kedua pusaka itu akan menjadi pasangan pusaka yang tak ternilai. Pusaka itu akan menjadi sedemikian saktinya, sehingga orang yang mempergunakannya akan kalis dari kekalahan. Siapa pun lawannya. Kau mengerti?"

 

 
Kalimat itu adalah petikan dari cerita bersambung 'Pelangi di Langit Singasari' karya SH. Mintardja.

Mahisa Agni mendapat perintah dari gurunya; Empu Purwo, untuk  mencari Kayu Wregu Putih di lereng gundul gunung Semeru agar menjadi pesilat nomor wahid yang tak tertandingi oleh siapapun.

Sebagai pemuda belia, Mahisa Agni sangat tergiur oleh iming-iming duniawi itu karena dengan kesaktian yang tinggi, kekuasaan, harta dan segala kenikmatan duniawi bisa diraih.

Perjalanan ke gunung Semeru itu tidaklah mulus, terjalnya lereng pegunungan, gangguan 'penyamun' dan tekanan mental mesti dihadapi Mahisa Agni dengan ketajaman akal budi dan bekal kanuragan yang dipelajari di Padepokan Ponowijen.

Namun, ujian terbesar justru saat Mahisa Agni sudah mendapatkan Kayu Wregu Putih dimana seorang tetua dari lereng gunung (Ki Buyut Winong) dengan memelas meminta Kayu Wregu Putih itu untuk menyembuhkan warganya yang terserang wabah penyakit.

Pergolakan batin Mahisa Agni benar-benar riuh dan menghentak-hentak dadanya, disatu sisi ingin menjadi pendekar paling sakti di muka bumi, namun disisi yang lain hatinya tidak tega melihat rakyat kecil itu menderita.

Ia berteriak-teriak untuk melawan pergolakan batin yang menghimpit. Hampir saja ia mengusir orang tua itu dengan kasar karena jiwanya nyaris kehilangan kendali.

Ia tidak ingin berjaya diatas tumpukan mayat orang se Kabuyutan, tapi otaknya membuat alibi bahwa kesaktian itupun nanti bisa digunakan untuk melindungi dan menyelamatkan orang banyak dari kejahatan penyamun dan perampok, atau kekejaman penguasa.

Dialog dramatik itu akhirnya anti klimaks setelah Ki Buyut Winong menyerah dan tidak ingin merebut Kayu Wregu Putih tetapi ia justru titip pesan untuk disampaikan kepada penduduk Kabuyutan Winong bahwa dirinya tidak berhasil mengambil Kayu Wregu Putih di gua kecil lereng gundul gunung Semeru, bahkan dirinyapun tentu akan mati disitu.

Mendengar pesan Ki Buyut Winong, Mahisa Agni benar-benar terguncang karena merasa betapa dirinya sangat kerdil dan egois, ia hanya mementingkan diri sendiri, sedang orang tua itu akan mati demi memperjuangkan nyawa orang banyak.

Oleh sentuhan rasa iba dan welas asih, tak urung lemaslah Mahisa Agni, pendekar perkasa yang dengan pusaka Trisula mampu mengimbangi kesaktian Ken Arok saat bertempur di Padang Karautan. Kayu Wregu Putih yang akan menjadi pasangan Trisula yang maha sakti itu akhirnya diserahkan kepada Ki Buyut Winong, dan orang tua itu menjadi bengong melihat perubahan sikap Mahisa Agni.

Namun, saat Mahisa Agni dengan langkah lunglai akan pulang mengadukan kegagalannya, peristiwa mengejutkan kembali mengguncang hatinya. Gurunya mencegat di lereng gunung, tidak jauh dari gua kecil itu. Ia menjadi benar-benar pucat dan sedih karena telah mengecewakan gurunya.

Tetapi ternyata gurunya justru tersenyum dan dengan rasa penuh kasih Empu Purwo menyerahkan Kayu Wregu Putih.

Teryata semua ujian itu dilakukan sendiri oleh Mpu Purwo dalam rangka menjajagi kematangan jiwa, menakar keseimbangan lahir-batin dan menumbuhkan rasa berserah diri pada Yang Maha Kuasa sebelum murid tersayangnya mendapatkan warisan ilmu tertinggi perguruan.


PPDB dan MPLS

Setelah usai masa PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), mulai tanggal 13 Juli yang lalu sekolah-sekolah telah menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan cara vitual melalui program-program dalam jaringan (daring).

Dalam kondisi normal sebagaimana tahun-tahun yang lalu, MPLS selalu diselenggarakan dengan hingar bingar karena peserta didik (siswa) baru itu bak tamu yang ditunggu-tunggu dengan berbagai harapan. Suasananya benar-benar fresh dan banyak sukacita meski juga banyak tugas dalam rangka lebih mengenal lingkungan sekolah dengan budaya spesifiknya dan juga belajar menghargai waktu.

Tentu akan bertebaran slogan tentang pendidikan karakter disana meski fakta pelaksanaannya lebih bersifat formal dan bukan esensial.

Di era milenial, tentu para pendidik (guru) tidak perlu bertindak ekstrem seperti Empu Purwo dalam mematangkan jiwa peserta didiknya, dan tidak harus pula siswa meniru Mahisa Agni untuk mencari goa kecil di lereng gunung demi sepotong Kayu Wregu Putih.

Ada hal penting yang bisa dipetik dari cerita itu, pertama, sebuah iming-iming yang bersifat duniawi itu wajar adanya karena remaja milenial tentu tergiur oleh hal yang menyilaukan mata, terlihat "Waauw", yang keren dan trendy.

Menjadi orang paling pintar, paling gagah, paling berkuasa, paling kaya, atau paling populer, itu wajar menjadi cita-cita anak milenial sebagaimana Mahisa Agni tergiur menjadi pendekar paling sakti di jamannya.

Tetapi, akhlak/budi-pekerti, spiritualitas, kecerdasan sosial dan aspek batiniah lainnya, harus diolah dengan 'kurikulum khusus' yang tidak semata-mata bersifat formal, berupa data numerik atau tampilan ststistik diatas kertas semata.

Tentu pergolakan batin Mahisa Agni tidak akan pernah dirasakan oleh siswa yang hanya belajar di kelas, membaca buku atau browsing internet.

Pertanyaan dari guru tentang hal-hal yang dilematis di dalam kelas hanyalah simulasi semata, sedang pengalaman langsung menghadapi masalah kehidupan yang nyata, yang menuntut sebuah pengobanan secara sungguh-sungguh adalah ujian yang nyaris sempurna.

Adakah diantara kita berani melakukan ujian seperti itu? Ujian yang menuntut Sang Guru ikut menyusuri hutan, rawa-rawa dan lereng terjal tanpa diketahui oleh orang lain demi sempurnanya ujian hingga mampu membuat muridnya masuk pada keadaan jiwa di ambang histeris oleh pergolakan batin yang dahsyat?

Tentu bagi siswa kita sekarang bukanlah hutan, rawa-rawa dan lereng terjal dalam arti yang sebenarnya, tetapi kita perlu mendidik anak-anak kita menghadapi pergolakan batin paling dahsyat agar nanti terlahir generasi paripurna, negarawan sejati, satria pinandhita, insan kamil, yang bukan hanya pintar dan cerdas, tapi juga berbudi luhur.
Tentu kitapun selalu berdoa untuk itu.


Draft: 10 Juli 2020, 13:52
Edit terakhir: 19 Juli 2020, 23:21